MARKET DATA

Warga RI Kini Belanja Pakai Uang Hasil Pinjam, Ini Buktinya!

Robertus Adrianto,  CNBC Indonesia
28 July 2026 13:10
Pengunjung memlih pakaian yang dijual di salah satu pusat perbelanjaam di Kawasan Depok, Jawa Barat, Selasa (5/1/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) memberi sinyal bahwa daya beli masyarakat mulai membaik karena salah satu indikatornya yakni inflasi k
Foto: Pengunjung memlih pakaian yang dijual di salah satu pusat perbelanjaam di Kawasan Depok, Jawa Barat, Selasa (5/1/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) memberi sinyal bahwa daya beli masyarakat mulai membaik karena salah satu indikatornya yakni inflasi komponen inti tumbuh positif mencapai 0,05 persen pada Desember 2020. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Daya beli masyarakat mampu tumbuh positif pada Juni 2026, tercermin dari data Mandiri Spending Index yang menunjukkan belanja masyarakat mencapai 123 poin atau tumbuh 5,9% secara tahunan.

Seiring dengan tumbuhnya kemampuan belanja masyarakat, data Mandiri Saving Index juga tercatat tumbuh 5,7% dengan angka indeks sebesar 84,8.

Didorong oleh naiknya komponen pembentuk indeks, yakni indeks pinjaman yang mencakup pinjaman online atau P2P lending, kartu kredit, serta paylater perusahaan pembiayaan non-bank. Nilai indeksnya mencapai 157,7 atau tumbuh 24,6% yoy.

"Hal ini menunjukkan belanja masih tumbuh positif meskipun tingkat tabungan melemah. Bersamaan dengan itu penggunaan pembiayaan meningkat," dikutip dari laporan Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri yang terbit pada Selasa (28/7/2026).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia, total outstanding pinjaman online, kartu kredit, dan paylater (non-bank) mencapai Rp160,7 triliun pada Mei 2026. Dari jumlah tersebut, outstanding pinjaman online tercatat sebesar Rp103,7 triliun, atau sekitar 65% dari total gabungan ketiga pembiayaan tersebut.

Sementara itu, outstanding kartu kredit mencapai Rp43,8 triliun (27%), sementara paylater yang disalurkan perusahaan pembiayaan sebesar Rp13,2 triliun (8%). Pertumbuhan tertinggi ditunjukkan oleh paylater (53,6% yoy), diikuti P2P lending (25,7%), dan kartu kredit (15,6%).

Berdasarkan data OJK, porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif meningkat menjadi 86% pada April 2026, dari 78% di April 2025 dan 68% di April 2024. Sebaliknya, porsi pinjaman untuk kegiatan produktif terus menurun menjadi hanya 14%.

"Pergeseran ini menunjukkan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, sementara permintaan pembiayaan untuk aktivitas usaha menjadi lebih terbatas," sebagaimana tertulis dalam laporan tim ekonom Mandiri itu.

Kendati begitu, penting dicatat momentum belanja masyarakat melandai pada awal kuartal III-2026. Berdasarkan data MSI, rata-rata pertumbuhan belanja masyarakat di awal kuartal III sebesar 5,8% yoy, lebih rendah dibanding kuartal II (6,1%) dan kuartal I (6,4%).

Di sisi lain, pelemahan tabungan dan meningkatnya porsi pembiayaan konsumtif menunjukkan sebagian konsumsi semakin ditopang oleh leverage rumah tangga.

"Oleh karena itu, penguatan tingkat penghasilan perlu menjadi prioritas agar konsumsi ke depan lebih ditopang oleh kapasitas keuangan rumah tangga yang lebih kuat," tulis laporan Mandiri.

"Kebijakan untuk menjaga pendapatan disposabel, menahan tekanan biaya hidup, serta mendorong penciptaan lapangan kerja menjadi penting agar momentum konsumsi tetap terjaga lebih sehat," lanjutnya.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Emiten Prajogo Pangestu (CDIA) Mau Beli Saham PT AMP Rp 1,4 Triliun


Most Popular
Features