MARKET DATA

Kelas Menengah Royal Belanja Jelang Lebaran, Tapi Tabungannya Menipis

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
17 March 2026 14:15
Pengunjung berbelanja kebutuhan bahan pokok di salah satu supermarket di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat, 26/4. Harga bahan pokok pasca Idulfitri 1445 Hijriah atau Lebaran 2024 cenderung tetap. Kendati demikian pasokan barangnya belum banyak.
Foto: CNBC Indonesia/Muhamad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Belanja masyarakat mulai meningkat menjelang Lebaran. Di tengah momentum tersebut, kelompok kelas menengah juga mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski pola konsumsinya masih cenderung hati-hati dan lebih fokus pada kebutuhan sehari-hari.

Hal ini terlihat dari laporan Mandiri Institute yang menunjukkan Mandiri Spending Index (MSI) mingguan mengalami kenaikan..

Pada minggu pertama setelah Ramadan dimulai, atau per 1 Maret 2026, MSI tercatat berada di level 121,6, naik dibandingkan minggu sebelumnya yang berada di level 121,2. Secara mingguan, indeks ini tumbuh 0,28% week to week (WoW), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada minggu sebelumnya yang hanya 0,01%.

Secara tahunan, pertumbuhan belanja masyarakat juga masih cukup kuat. MSI pada periode tersebut tercatat tumbuh 6,5% (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,7% yoy. Ini menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi masyarakat mulai menguat seiring masuknya Ramadan dan mendekati Lebaran.

Mandiri Spending IndexFoto: MSI
Mandiri Spending Index

Kenaikan belanja ini juga masuk akal karena awal Ramadan tahun ini sempat bertepatan dengan masa tanggal tua, sehingga ruang belanja masyarakat masih terbatas. Setelah memasuki periode gajian, daya beli mulai bergerak dan mendorong kenaikan konsumsi.

Kelas Menengah Mulai Menunjukkan Pemulihan

Di tengah kenaikan belanja masyarakat jelang Lebaran, masyarkat kelas menengah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Sinyal ini terlihat dari adanya kenaikan signifikan pada proporsi nilai belanja khususnya untuk kebutuhan sehari-hari.

Pada Februari 2026, proporsi belanja kelas menengah untuk supermarket mencapai sekitar 20,7%, naik dari 18,6% pada Januari 2026. Sementara itu, porsi belanja untuk kebutuhan rumah tangga juga naik tipis menjadi 8,9% dari 8,7% pada bulan sebelumnya.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa kelas menengah mulai kembali aktif membelanjakan uangnya, terutama untuk kebutuhan yang bersifat pokok dan dekat dengan konsumsi harian. Dengan kata lain, pemulihan mulai terlihat, meski belum sepenuhnya tercermin dalam belanja yang lebih agresif untuk kebutuhan sekunder atau gaya hidup.

Sinyal perbaikan itu juga terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berdasarkan kelompok pengeluaran. Dalam data ini, kelompok menengah tercermin dari pengeluaran Rp3,1-4 juta dan Rp4,1-5 juta per bulan. Pada Februari 2026, dua kelompok ini justru mencatat kenaikan IKK dibandingkan Januari 2026.

IKK kelompok pengeluaran Rp3,1-4 juta naik dari 120,7 menjadi 122,6, sedangkan kelompok Rp4,1-5 juta naik dari 124,2 menjadi 125,5. Sebaliknya, kelompok pengeluaran lain justru mengalami penurunan. Kondisi ini memberi sinyal bahwa optimisme konsumen kelas menengah masih cukup terjaga di tengah tekanan yang masih dirasakan kelompok lain.

Artinya, kelas menengah mulai menunjukkan pemulihan, baik dari sisi perilaku belanja maupun keyakinan konsumsinya. Namun, pemulihan ini masih cenderung hati-hati karena belanja yang meningkat sejauh ini masih terkonsentrasi pada kebutuhan sehari-hari.

Tapi Tabungan Kelas Menengah Makin Tipis

Di balik mulai pulihnya belanja kelas menengah, ada satu catatan penting yang perlu diperhatikan, yakni tabungan kelompok ini justru makin menipis.

Mandiri Institute menunjukkan Mandiri Saving Index kelompok menengah pada Februari 2026 berada di level 100,4. Angka ini turun dari tahun sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak Oktober 2023.

Dalam klasifikasi Mandiri Institute, kelompok menengah merujuk pada nasabah dengan rata-rata tabungan Rp1 juta hingga Rp10 juta. Sementara itu, kelompok bawah adalah nasabah dengan rata-rata tabungan di bawah Rp1 juta, sedangkan kelompok atas adalah nasabah dengan rata-rata tabungan di atas Rp10 juta.

Jika dilihat lebih jauh, tren tabungan tiap kelompok memang berbeda. Kelompok bawah dan atas cenderung lebih stabil selama Ramadan, sementara kelompok menengah justru menunjukkan pelemahan.

Hal ini membuat posisi kelas menengah menjadi cukup rentan. Sebab, di satu sisi mereka mulai kembali belanja, tetapi di sisi lain bantalan tabungannya justru makin menipis.

Artinya, meski konsumsi kelas menengah mulai menunjukkan pemulihan, ruang untuk terus menambah belanja kemungkinan tidak terlalu besar. Dengan kata lain, pemulihan ini belum sepenuhnya kokoh karena buffer keuangannya semakin terbatas.

Mandiri Saving IndexFoto: Mandiri Institute
Mandiri Saving Index

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular