Balik ke Level 6.100, Ini Penyebab IHSG Ambruk 2% Lebih

mkh, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 09:25 WIB
Foto: Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok lebih dari 2% pada awal perdagangan Jumat (24/7/2026) di tengah derasnya aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama sektor perbankan.

Sentimen eksternal berupa kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump serta lonjakan harga minyak dunia di atas US$100 per barel turut mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Hingga pukul 09.28 WIB, IHSG anjlok 2,13% ke level 6.180,67. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 556 saham melemah, hanya 99 saham menguat, sementara 310 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi telah mencapai Rp4,37 triliun dengan volume perdagangan 9,79 miliar saham dalam 608,2 ribu kali transaksi, mencerminkan tingginya tekanan jual sejak awal sesi.


Tekanan terhadap IHSG didominasi sektor keuangan yang merosot 1,44%, menjadikannya sektor dengan pelemahan terdalam. Pelemahan juga terjadi pada utilitas (-0,92%), dan barang konsumsi non-primer (-0,71%). Sebaliknya, sektor properti masih mampu menguat 5,41%, disusul sektor energi (+1,09%) dan industri (+0,76%).

Dari sisi emiten, pelemahan indeks terutama dipicu aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi jumbo. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi pemberat terbesar IHSG dengan memangkas 11,97 poin indeks.

Selanjutnya disusul PT DCI Indonesia Tbk (DCII) (-8,94 poin), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) (-7,47 poin), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) (-6,65 poin), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) (-6,24 poin), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) (-5,67 poin), PT Barito Pacific Tbk (BRPT) (-2,95 poin), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) (-2,60 poin), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) (-2,52 poin), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) (-1,93 poin).

Tekanan pada saham-saham perbankan sudah terlihat sejak perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (23/7), investor asing membukukan jual bersih (net foreign sell) sekitar Rp920,3 miliar di pasar reguler. Aksi jual asing terkonsentrasi pada saham-saham bank jumbo, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, sehingga tekanan terhadap sektor keuangan berlanjut pada awal perdagangan hari ini.

Dari eksternal, sentimen negatif masih mendominasi. Presiden AS Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru sebesar 10%-12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia.

Pada saat bersamaan, konflik di Timur Tengah kembali memanas sehingga mendorong harga minyak Brent melonjak 7% dan ditutup di US$100,69 per barel, menembus level psikologis US$100 untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir.

Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat dan memperbesar peluang bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kombinasi tekanan geopolitik, kenaikan harga energi, serta aksi jual asing pada saham-saham perbankan membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati pada awal perdagangan hari ini.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus MI Keruk Cuan Investasi di Era Perang - Gejolak Rupiah