MARKET DATA

Tertekan Aksi Jual, IHSG Sesi I Terkoreksi 1,75% ke Level 6.024

Redaksi,  CNBC Indonesia
24 July 2026 12:28
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terpuruk pada perdagangan hari ini, Jumat (24/7/2026), dengan pelemahan yang makin mendekati 2% di tengah derasnya aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).

Sentimen eksternal berupa lonjakan harga minyak dunia di atas US$100 per barel serta kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus membayangi pergerakan pasar.

Hingga akhir perdagangan sesi pertama, IHSG anjlok 111 poin atau 1,75% ke level 6.204,63. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 594 saham melemah, hanya 80 saham menguat, sementara 115 saham bergerak stagnan.

Nilai transaksi telah mencapai Rp 10,51 triliun dengan volume perdagangan 24,61 miliar saham dalam 1,46 juta kali transaksi, mencerminkan tingginya tekanan jual sejak awal sesi.

Pelemahan IHSG didominasi oleh aksi jual pada saham-saham unggulan, terutama sektor perbankan yang sehari sebelumnya juga menjadi sasaran jual investor asing.

Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan saham BMRI, AMMN, BREN, BRPT, BRMS dan BUMI menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini

Pada perdagangan Kamis (23/7), investor asing membukukan jual bersih (net foreign sell) sekitar Rp920,3 miliar di pasar reguler, dengan tekanan terbesar terjadi pada saham-saham bank jumbo seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Aksi lepas tersebut berlanjut pada perdagangan hari ini sehingga menyeret indeks lebih dalam.

Tekanan juga dipengaruhi sentimen global yang semakin memburuk. Presiden AS Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru sebesar 10%-12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, yang kembali memicu kekhawatiran terhadap prospek perdagangan global. Di saat bersamaan, konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak Brent melonjak hingga US$100,69 per barel, level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi global akan kembali menguat dan memperbesar peluang bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kombinasi tekanan eksternal dan berlanjutnya aksi jual pada saham-saham perbankan membuat pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, sehingga IHSG menjadi salah satu indeks yang mengalami tekanan cukup dalam pada awal perdagangan hari ini.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News! IHSG Turun 2% Balik ke Level 6.100an, Ada Apa?


Most Popular
Features