Prajogo Incar Akuisisi Raksasa Panas Bumi Filipina, Nilainya Rp90 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Miliarder Indonesia Prajogo Pangestu dikabarkan berencana mengakuisisi Energy Development Corp. (EDC), perusahaan panas bumi terbesar di Filipina, sebagai bagian dari ekspansi bisnis energinya di Asia Tenggara.
Melalui Barito Renewables Energy, yang berada di bawah kendalinya, Prajogo telah menyampaikan penawaran awal yang tidak diminta (unsolicited), bersifat indikatif dan tidak mengikat, untuk mengakuisisi EDC.
Dikutip laporan Forbes dan VN Express, nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai US$5 miliar atau Rp 90 triliun (asumsi kurs Rp 18.000/US$).
Penawaran itu masih bergantung pada proses due diligence (uji tuntas) serta persetujuan dari regulator terkait, menurut First Gen Corp., yang merupakan pemegang saham terbesar EDC yang berbasis di Manila, dalam pernyataan resminya.
"Hingga saat ini belum ada pembicaraan antara kedua pihak dan belum ada perjanjian yang ditandatangani," kata First Gen dalam pernyataannya.
Perusahaan yang dikendalikan oleh taipan Federico Lopez dan keluarganya itu juga menegaskan belum menunjuk penasihat keuangan untuk transaksi tersebut.
EDC merupakan perusahaan yang sebelumnya dimiliki negara Filipina sebelum diakuisisi oleh Grup Lopez pada 2007. Saat ini EDC memiliki dan mengoperasikan 16 pembangkit listrik panas bumi di seluruh Filipina dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.300 megawatt (MW).
Selain itu, perusahaan juga memiliki kapasitas pembangkit energi terbarukan lainnya hampir 300 MW, yang berasal dari tenaga air, surya, dan angin.
Direktur Utama China Bank Capital Corp., Juan Paolo E. Colet, mengatakan proposal akuisisi tersebut berpotensi meningkatkan nilai bagi para pemegang saham apabila benar-benar terealisasi, seperti dikutip surat kabar Filipina Business World.
"Dengan diskon valuasi pasar yang terus dialami First Gen, transaksi seperti ini dapat menjadi peluang untuk mengembalikan modal dalam jumlah signifikan kepada pemegang saham sekaligus mengalokasikan kembali hasil penjualannya ke investasi energi bersih yang lebih menguntungkan," ujar Colet.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]