MARKET DATA

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp17.960

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 July 2026 09:04
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda mesti mengawali perdagangan awal pekan ini, Senin (20/7/2026), dengan melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir data Refinitiv, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,42% ke level Rp17.960/US$ yang sekaligus membuat rupiah kembali mendekati Rp18.000/US$. Setelah, pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (17/7/2026), rupiah ditutup menguat tajam 0,53% ke posisi Rp17.885/US$.

Pelemahan rupiah pagi ini terjadi ketika indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia (DXY) bergerak stabil. DXY berada di level 100,765 setelah menguat 0,28% pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu.

Dolar AS menguat tipis terhadap mayoritas mata uang dunia pada awal perdagangan Asia hari ini. Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkatkan kehati-hatian investor, sekaligus mendorong kenaikan harga minyak.

Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman kembali meningkat. Ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pun menjadi lebih terbatas.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih memperkirakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 29 Juli mendatang.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menahan suku bunga mencapai 85,6%, meningkat tajam dibandingkan 61,5% pada sebulan lalu.

Namun, arah kebijakan The Fed masih dibayangi perbedaan pandangan di antara para pejabatnya. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack pada Jumat lalu bergabung dengan sejumlah pejabat lain yang menilai suku bunga mungkin perlu dinaikkan untuk meredam tekanan inflasi yang masih tinggi.

Pernyataan tersebut membuka peluang terjadinya perdebatan sengit dalam pertemuan The Fed mendatang, sekaligus kemungkinan munculnya perbedaan suara pada rapat kedua Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

Selain sentimen eksternal, pasar juga tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan mengumumkan keputusan mengenai suku bunga acuan pada Rabu (22/7/2026).

BI telah menaikkan suku bunga sebesar total 100 basis poin sejak Mei 2026. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin dilakukan pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya BI juga menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni untuk merespons tekanan terhadap rupiah.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.930


Most Popular
Features