Investor Cermati Data Penting AS, Bursa Asia Dibuka Loyo

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Selasa, 14/07/2026 08:40 WIB
Foto: Seorang pedagang mata uang berjalan melewati papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan di ruang perdagangan sebuah bank di Seoul, Korea Selatan, 3 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Selasa, (14/7/2026) seiring investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), musim laporan keuangan emiten, serta rilis data inflasi Negeri Paman Sam.

Melansir CNBC, investor juga menperhatikan kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak dapat mempertahankan tekanan inflasi turut membebani sentimen pasar.


Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,17%, sementara Topix melemah 0,51%. Bursa Korea Selatan juga bergerak di zona merah dengan Kospi anjlok 2,01% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 1,8%.

Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 dibuka melemah 0,29%. Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng berada di level 24.158, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 24.213,72.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS naik tajam karena investor khawatir kenaikan harga minyak akan menjaga inflasi tetap tinggi. Kondisi tersebut memicu volatilitas di pasar menjelang dimulainya musim laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar di Wall Street.

Sejumlah bank raksasa AS, termasuk JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan Bank of America dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan sebelum pembukaan perdagangan di Wall Street pada Selasa waktu setempat. Hasil kinerja emiten-emiten tersebut akan menjadi indikator penting bagi investor dalam menilai kondisi ekonomi dan prospek pasar.

Direktur Riset dan Strategi Investasi Canaccord Genuity, Michael Graham, mengatakan pelemahan pasar pada perdagangan sebelumnya lebih bersifat pengecualian dan tidak mengubah pandangan positif terhadap musim laporan keuangan. Menurutnya, prospek laba perusahaan teknologi berkapitalisasi besar masih cukup konstruktif dan berpotensi melampaui ekspektasi.

Berdasarkan data FactSet, analis memperkirakan laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 tumbuh 23,6% pada kuartal II dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain musim laporan keuangan, investor juga menantikan rilis data inflasi konsumen AS (Consumer Price Index/CPI) Juni serta penyampaian laporan kebijakan moneter Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kepada Kongres AS dalam agenda semiannual Humphrey-Hawkins Report.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus MI Keruk Cuan Investasi di Era Perang - Gejolak Rupiah