Yen Jepang Anjlok, Bursa Asia Dibuka Beragam
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan Rabu (2/7/2026) di tengah pelemahan yen Jepang ke level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS serta sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis hari ini.
Data LSEG menunjukkan yen Jepang melemah hingga menyentuh level 162,28 per dolar AS, memperpanjang pelemahan dari sesi sebelumnya. Kondisi ini membuat investor kembali waspada terhadap potensi intervensi otoritas Jepang untuk menahan pelemahan mata uangnya.
Melansir CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 1,79% pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks yang lebih luas, Topix, naik 1,07%.
Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 1,52%. Namun, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru terkoreksi 0,42%.
Sementara itu, pasar saham Australia bergerak relatif datar. Indeks S&P/ASX 200 tercatat turun tipis 0,05% pada perdagangan pagi hari.
Sentimen pasar juga dipengaruhi pergerakan bursa AS. Kontrak berjangka (futures) indeks Dow Jones melemah pada perdagangan Selasa malam waktu setempat setelah indeks Dow Jones mencatatkan kinerja paruh pertama tahun terbaiknya dalam lima tahun terakhir.
Memasuki paruh kedua tahun ini, Co-Founder Bespoke Investment Group Paul Hickey menilai sektor semikonduktor masih menarik dalam jangka panjang. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa reli yang terjadi belakangan ini membuat valuasi sektor tersebut mulai terlihat terlalu panas.
Menurut Hickey, pasar bullish saat ini didorong oleh tema kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, ia menilai saham-saham teknologi dan semikonduktor tidak harus terus mencatatkan kinerja luar biasa secara konsisten untuk mempertahankan tren kenaikan pasar.
Ia menambahkan bahwa sebagian saham semikonduktor telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan mulai berada di area yang terlalu tinggi. Karena itu, investor dinilai perlu mengambil jeda sejenak sebelum kembali menambah eksposur pada sektor tersebut.
Dari sisi kebijakan moneter, investor menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Forum Bank Sentral Eropa (ECB) mengenai perbankan sentral yang digelar di Sintra, Portugal. Sejak menjabat, Warsh telah memperkenalkan sejumlah gugus tugas untuk meninjau kembali strategi The Fed dalam merumuskan kebijakan moneter modern.
Pelaku pasar juga terus memperkirakan langkah The Fed dalam menghadapi tekanan inflasi yang masih berlangsung. Sejumlah investor menilai bank sentral AS masih memiliki peluang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila inflasi belum menunjukkan penurunan yang sesuai target.
Selain itu, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting yang dirilis pada Rabu. Data tersebut meliputi survei ketenagakerjaan ADP periode Juni, indeks aktivitas manufaktur ISM Juni, serta pembacaan final indeks PMI manufaktur global yang dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter AS ke depan.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]