Bursa Asia Dibuka Beragam, Pasar Cemas Konflik AS-Iran Makin Panas
Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia dibuka beragam mengawali pekan ini. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang kembali memanas, di tengah penantian sejumlah agenda penting bank sentral pekan ini.
Pasar saham China bergerak relatif stabil. Shanghai Composite Index tercatat berada di level 3.763,80 pada pukul 08.52 CTT, melemah tipis 0,354 poin atau 0,01%.
Indeks Shenzhen Component Index ditutup berada di level 13.706,884 Hal serupa juga terjadi pada Hang Seng Index (HSI) Hong Kong yang mana indeks berada di level 24.562,24.
Di Australia, S&P/ASX 200 menjadi salah satu indeks yang berhasil menguat. Pada pukul 10.47 AET, indeks berada di level 8.812,20, naik 15,50 poin atau 0,18%.
Berbeda dengan Australia, pasar saham Korea Selatan mengalami tekanan. KOSPI Index berada di level 6.746,33 pada pukul 09.47 JST, turun 74,27 poin atau 1,09%.
Sementara itu, Indeks Nikkei 225 Jepang libur hari ini. Berdasarkan data penutupan Jumat, 17 Juli 2026 pukul 07.17 JST, Nikkei berada di level 64.141,12, turun 2.694,42 poin atau -4,03%.
Mengutip CNBC Internasional, para investor terus memantau konflik di Timur Tengah, yang mana ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas selama akhir pekan.
Pasukan militer AS pada hari Minggu menyerang Iran 8 malam berturut-turut, sementara Iran meningkatkan serangan udara terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut. Eskalasi permusuhan ini semakin membebani gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa seorang anggota militer ketiga tewas dalam pertempuran baru-baru ini. Pasukan AS juga menemukan jenazah tak dikenal di dekat lokasi serangan Iran di Yordania pada 17 Juli yang menewaskan dua orang.
Harga minyak berjangka naik menyusul perkembangan tersebut. Harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terakhir naik 3% menjadi di atas US$85 per barel, sementara harga minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 3% menjadi di atas US$91 per barel.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]