Ada Konflik AS-Iran hingga Harga Minyak, Bursa Asia Dibuka Bervariasi
Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia pada perdagangan pagi ini bergerak bervariasi sentimen konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mempengaruhi harga minyak masih menjadi sentimen utama.
Berdasarkan data pasar pada pukul 08.30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang tercatat turun 101,79 poin atau 0,16% ke level 64.077,48.
Sedangkan, indeks Shanghai Composite bergerak melemah tipis sebesar 0,566 poin atau 0,01% ke posisi 3.992,66.
Sementara itu, Shenzhen Component Index berada di level 14.954,101 dan tercatat belum tidak mengalami perubahan (unchanged) sejak 10 Juni 2026. Begitu pula dengan bursa Hong Kong, Hang Seng Index (HSI) juga terpantau stagnan (unchanged) pada level 24.407,96 pada perdagangan kemarin.
Tekanan jual terlihat di pasar Australia. S&P/ASX 200 turun 40 poin atau 0,46% ke level 8.613,30.
Sedangkan pasar Korea Selatan berhasil mencatatkan penguatan. Indeks KOSPI naik 29,20 poin atau 0,38% ke posisi 7.760,02.
Mengutip CNBC Indonesia, indeks Dow Jones anjlok lebih dari 900 poin seiring memburuknya aksi jual saham perusahaan semikonduktor, sementara Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Saham-saham AS tumbang pada Rabu setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran berlangsung "terlalu lama" dan mengancam akan mengambil tindakan lebih lanjut.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 953,33 poin, atau 1,87%, menjadi 49.918,78. Indeks S&P 500 turun 1,62% menjadi 7.266,99, dan Indeks Komposit Nasdaq turun 1,98% menjadi 25.169,50.
Indeks-indeks utama turun setelah Trump mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran, dengan mengatakan bahwa "kami akan menyerang mereka dengan sangat keras."
"Terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang akan sangat menguntungkan bagi mereka, kini mereka harus membayar harganya!!!," tulis Trump dikutip, Kamis (11/6/2026).
Harga minyak naik setelah ancaman Trump. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate ditutup naik 2,07% menjadi US$90,03 per barel, sementara minyak mentah Brent naik 1,8% dan ditutup di level US$93,10.
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas pada Selasa malam, setelah pasukan AS melancarkan serangan terhadap Iran.
Pada hari Selasa, saham-saham perusahaan semikonduktor menyeret turun indeks S&P 500 dan Nasdaq, sementara indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average ditutup menguat.
Penurunan tajam pada hari Selasa merupakan kelanjutan dari koreksi pekan lalu, yang terjadi setelah berminggu-minggu terjadi aksi beli yang gencar yang didorong oleh antusiasme terhadap segala hal yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.
(mkh/mkh) Add
source on Google