Didukung DPR, BI & Purbaya Siap Kompak Bikin Rupiah Balik Perkasa!

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Sabtu, 06/06/2026 12:06 WIB
Foto: Dasco Kumpulkan Menkeu Sampai Bos BI Bahas Nasib Rupiah. (Dokumentasi Tim Media Pimpinan DPR)

Jakarta, CNBC Indonesia-Pertemuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pada hari ini, Sabtu (6/6/2026) menyepakati fokus ke depan adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Intinya mau memastikan koordinasi antar Menkeu dan Gubernur BI berjalan baik dalam sinkronisasi dan eksekusi kebijakan fiskal dan moneter," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Mohamad Hekal dalam konferensi pers usai pertemuan.


Hadir dalam pertemuan Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerakan Indonesia Raya Sufmi Dasco Ahmad, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya dalam tugasnya hanya akan berfokus pada kebijakan fiskal, salah satunya pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurut Hekal, APBN sudah berjalan baik dengan berhasil meningkatkan penerimaan dan menjaga defisit dalam batas aman.

Defisit APBN meningkat tipis mencapai Rp180,4 triliun atau 0,70 % dari PDB. Pendapatan negara Rp 1.185 triliun dan belanja negara mencapai Rp 1.365,4 triliun hingga akhir Mei 2026. Adapun, keseimbangan primer tercatat surplus sebesar Rp58,6 triliun.

Sementara BI akan berfokus pada sisi rupiah. Salah satu yang dilakukan sebelumnya menaikkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 5,25% dan tetap intervensi agar pelemahan rupiah dapat diredam.

Menurut Hekal, komitmen ini akan mendorong kepercayaan investor kembali ke Tanah Air.

"Agar masing-masing mengoptimalkan perannya dalam menahkodai bidang masing-masing baik moneter dan fiskal dan saling mendukung upaya meningkatkan kepercayaan investor baik asing dan dalam negeri kepada pengelolaan perekonomian Indonesia dan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah," jelas Hekal

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga meminta agar kas pemerintah kembali dikelola oleh bank central. BI siap memberikan bunga yang lebih tinggi kepada pemerintah.

"Sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI," kata Perry pada kesempatan yang sama.

"Tapi itu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," terangnya.

Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup pada level Rp18.010/US$ pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Purbaya meyakini kesepakatan ini akan membawa rupiah kembali menguat dari posisi sekarang yang jauh dari fundamental.

"Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan efek ke nilai rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan, tidak akan melemah lagi ke level yang lebih tinggi dari sekarang," kata Purbaya pada kesempatan yang sama.


(mij/mij) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Mengejutkan! BI Naikkan Suku Bunga Acuan 50 Bps Jadi 5,25%