Internasional

Cerita Bursa Raksasa Tetangga RI Mau Kolaps, Diselamatkan Investor Ini

tps, CNBC Indonesia
Rabu, 20/05/2026 07:40 WIB
Foto: Bombay Stock Exchange (BSE) (AP/Rafiq Maqbool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham India berhasil menghindari kejatuhan total alias freefall setelah investor domestik mengambil peran krusial dengan menyuntikkan dana besar-besaran untuk menahan aksi jual masif dari investor asing sepanjang tahun lalu. Langkah penyelamatan ini menjadi titik balik penting bagi stabilitas pasar modal India di tengah tingginya tekanan makroekonomi global yang dipicu oleh konflik geopolitik.

Mengutip laporan dari CNBC's "Squawk Box Asia" pada Rabu (20/5/2026), keterlibatan investor ritel dan institusi lokal kini menjadi penopang utama bagi ketahanan ekonomi domestik di negara tersebut. Kepala Eksekutif pasar saham tertua di India mengungkapkan bahwa tren pertumbuhan partisipasi masyarakat lokal ke dalam instrumen pasar modal saat ini terus mengalami lonjakan yang sangat masif dan berada dalam jalur yang positif.

"India sedang berkembang, dan sejumlah besar populasi masih belum masuk ke pasar modal," kata Direktur Utama Bombay Stock Exchange (BSE) Sundararaman Ramamurthy kepada CNBC International.


Sundararaman Ramamurthy menambahkan bahwa sebanyak 35 juta investor India baru telah terdaftar melalui bursa BSE sepanjang tahun lalu saja.

Kondisi tersebut secara langsung mengubah struktur kepemilikan saham di pasar modal India secara dramatis dibandingkan periode-periode sebelumnya. Berdasarkan data pergerakan modal terbaru, dominasi kepemilikan investor luar negeri kini sudah berhasil dipatahkan oleh kekuatan modal dari dalam negeri sendiri.

"Kepemilikan partisipan asing di pasar saham India dulunya lebih tinggi daripada institusi domestik, tetapi hari ini hal itu berbalik," ujar Ramamurthy.

Ramamurthy menambahkan bahwa investor institusi India telah menginvestasikan dana bersih sebesar US$ 91 miliar (Rp 1.610,70 triliun) di pasar ekuitas sepanjang tahun lalu. Skala intervensi domestik tersebut terbukti sangat masif dan melampaui agresivitas penarikan modal yang dilakukan oleh para pengelola dana global.

Pada periode yang sama, investor asing tercatat menarik dana keluar dari pasar ekuitas India sebesar US$ 35 miliar (Rp 619,50 triliun).

Meskipun terjadi arus modal keluar yang sangat besar dari eksternal, indeks saham utama India mampu bertahan dari guncangan ekstrem berkat aliran likuiditas domestik yang solid tersebut. Ramamurthy memaparkan hal ini di sela-sela acara Motilal Oswal India Corporate Day 2026 yang berlangsung di Singapura.

"Ini tidak hanya mengatasi arus keluar modal asing, tetapi juga memperkuat indeks Sensex dalam skala besar, dan telah mencegahnya dari kejatuhan total," tutur Ramamurthy.

Hingga saat ini, para pelaku pasar asing dilaporkan masih terus bersikap bearish terhadap prospek pasar ekuitas India akibat kinerja laba emiten yang dinilai lemah. Sentimen negatif eksternal ini diperparah oleh memburuknya dampak ekonomi akibat lonjakan harga minyak mentah global di tengah eskalasi konflik bersenjata yang sedang berkecamuk di Timur Tengah.

Faktor lain yang ikut menekan minat investor global adalah absennya raksasa teknologi baru di sektor kecerdasan buatan. Meskipun dikenal secara luas sebagai pemimpin global di bidang teknologi informasi (TI), India dinilai belum memiliki perusahaan ekosistem kecerdasan buatan (AI) berskala besar, yang pada akhirnya kian meredupkan daya tarik investasi asing.

Mengutip laporan berkala dari HSBC Research pada hari Selasa, absennya narasi pertumbuhan berbasis AI membuat kinerja pasar saham India tertinggal cukup jauh jika dihitung dalam denominasi mata uang dolar. Secara keseluruhan, pasar saham India tercatat mengalami penurunan sekitar 10% dalam valuasi mata uang dolar AS.

"Saham-saham Asia sebagian besar didorong oleh sentimen positif seputar AI," demikian tertulis dalam laporan HSBC Research tersebut.

Laporan HSBC Research menambahkan bahwa berbeda terbalik dengan kondisi India, pasar saham yang berfokus pada ekosistem AI seperti Korea Selatan dan Taiwan justru sukses mencatatkan lonjakan masing-masing sekitar 80% dan 40% sejak awal tahun.

Kendati demikian, situasi tersebut ternyata sama sekali tidak menyurutkan minat masyarakat lokal untuk terus mengalirkan modal mereka ke instrumen ekuitas domestik. Berdasarkan laporan dari media lokal di India, total arus modal masuk ke dalam reksa dana saham domestik melonjak tajam hingga menyentuh angka 384,4 miliar rupee atau mendekati US$ 4 miliar (Rp 70,80 triliun) pada bulan April, yang mencerminkan kenaikan sebesar 58% jika dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan data komprehensif dari LSEG, indeks acuan pasar modal India yaitu BSE Sensex saat ini tercatat mengalami penurunan sebesar 11% secara year-to-date. Rapor merah tersebut menempatkan bursa saham India ke dalam jajaran pasar dengan kinerja paling buruk di kawasan Asia sepanjang tahun ini.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Risiko RI Keluar Dari Indeks Emerging Market Mereda