MARKET DATA

Setelah Sentuh Level 9.000, IHSG Hari Ini Rehat Dulu

mkh,  CNBC Indonesia
08 January 2026 16:26
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Senin (19/7/2021) (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan berakhir di zona merah hari ini, Kamis (8/1/2026).

Indeks tercatat turun 19,34 poin atau 0,22% ke level 8.925,47. Indeks pada sesi 1 sempat menguat dan menyentuh level 9.000. Akan tetapi memasuki sesi 2 indeks mulai koreksi dan sempat menyentuh level terendah di 8.918,41. 

Sebanyak 380 saham turun, 328 saham naik, dan 250 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 28,78 triliun, melibatkan 51,58 miliar saham dalam 3,71 juta kali transaksi. 

Mengutip Refinitiv, sektor bahan baku anjlok paling dalam, yakni 1,88%. Hal ini seiring dengan saham-saham seperti Aneka Tambah (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), Bumi Resources Minerals (BRMS), hingga Amman Mineral International (AMMN) menjadi pemberat utama indeks. 

ANTM yang koreksi 9,35% membebani 7,14 indeks poin. Lalu MDKA 4,4 indeks poin dan BRMS 3,08 indeks poin. Namun pemberat utama IHSG hari ini adalah Bank Central Asia (BBCA) yang menyumbang -9,5 indeks poin. 

Kendati demikian, perdagangan hari ini menjadi bersejarah karena untuk pertama kalinyaIHSG menyentuh titik 9.000. Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat memperkirakan bahwa IHSG akan menyentuh level 9.000.

"To the moon," kata Purbaya menanggapi IHSG yang berhasil menyentuh level 9.000 hari ini.

Dia pun optimistis pada 2026 IHSG akan melampaui level 10.000. "10.000 tahun depan? lebih lah," kata Purbaya.

Ucapannya itu didasarkan pada kebijakan pemerintah yang kian sinkron, selain juga didorong ekonomi Indonesia yang kian membaik.

Sementara itu, jika menilik ke belakang, perjalanan IHSG menuju 9.000 penuh dengan drama. Pada April 2025, pasar saham tanah air sempat ambruk menyentuh titik terendah di area 5.800.

Pemicu utamanya adalah sentimen negatif global bertajuk "Liberation Day" dari Presiden AS Donald Trump, yang saat itu menebar ketakutan perang dagang dan proteksionisme agresif. Namun, kepanikan itu terbukti hanya sesaat.

Fundamental ekonomi Indonesia yang kuat berhasil membalikkan keadaan, membawa IHSG rebound secara signifikan hingga ke posisi puncaknya hari ini.

Sentimen positif juga datang dari persepsi para analis. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menilai lonjakan IHSG ini tidak lepas dari optimisme pelaku pasar terhadap rilis realisasi APBN 2025.

Kinerja anggaran negara yang solid memberikan kepercayaan diri bahwa pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menstimulasi ekonomi tahun ini.

Hal ini sejalan dengan data perdagangan yang menunjukkan adanya foreign inflow (arus dana asing masuk) yang deras sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026 hari ini.

Investor asing kembali melirik aset-aset Indonesia yang dinilai memiliki valuasi menarik dan prospek pertumbuhan laba emiten yang menjanjikan dibandingkan negara emerging market lainnya karena menariknya kenaikan PDB Indonesia di tengah dinamika geopolitik yang tidak pasti ini.

Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan IHSG akhirnya bisa melewati target 9.000 dengan baik, meskipun hanya menyentuh 9.002.

"Hal ini memberikan peluang yang lebih besar bagi IHSG untuk dapat menyentuh 10.000. Meskipun ada tensi geopolitik yang tengah terjadi saat ini, pelaku pasar lebih cenderung terhadap sikap optimis," ujar Nico kepada CNBC Indonesia.

Dia menambahkan ada beberapa isu yang menjadi perhatian pelaku pasar dan investor. Di antaranya akselerasi perekonomian Indonesia, optimalisasi program andalan, ruang pemangkasan tingkat suku bunga Bank Indonesia, dan ruang pemangkasan tingkat suku bunga The FEd

Namun bukan berarti sentimen ini positif terus. Dia mengingatkan tensi geopolitik masih menjadi ancaman pelaku pasar dan investor, seperti Taiwan dan China.

"Kalaupun IHSG mengalami koreki diharapkan jangan sampai di bawah 8.775 untuk menjaga harapan kembali ke 9.000," ujarnya.

Hal yang menarik dari rekor 9.000 ini adalah peran krusial investor domestik. Berbeda dengan era sebelumnya yang sangat bergantung pada asing, saat ini investor ritel memegang kendali signifikan dengan porsi transaksi mencapai kurang lebih 50% dari total perdagangan harian. Kekuatan ritel ini menjadi bantalan utama yang menjaga likuiditas pasar tetap terjaga saat asing sempat keluar di awal tahun lalu.

Pesta di pasar saham ini semakin lengkap dengan sentimen global yang mulai melunak. Konsensus pasar kini meyakini bahwa era suku bunga tinggi akan segera berakhir.

Bank Sentral AS (The Fed) diproyeksikan akan memangkas suku bunga acuan sebanyak dua kali tahun depan. Pelonggaran moneter global ini menjadi katalis positif, karena akan memicu aliran dana murah (cheap money) kembali membanjiri pasar negara berkembang, termasuk Indonesia walaupun ada resiko geopolitik global yang kian memanas setiap harinya.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rehat Dulu, IHSG Dibuka Melemah 0,15%


Most Popular
Features