Ekonom DBS Ramal Tantangan Rupiah Masih Besar di Kuartal II
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom DBS Bank memproyeksikan nilai tukar rupiah masih akan mengalami pelemahan lebih lanjut terhadap dolar AS pada kuartal II-2026.
Senior Economist and Executive Director DBS Bank, Radhika Rao mengatakan hal ini lantaran ketegangan dan kekhawatiran dari situasi geopolitik saat ini masih akan berlanjut.
Selain itu, ada beberapa ketidakpastian lain seperti implementasi penilaian terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 1 Juni mendatang, kebijakan fiskal pemerintah, dan penetapan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI).
Namun, Rao tidak merincikan lebih detil berapa proyeksi nilai tukar rupiah di semester II-2026. Sebab, DBS Research Group masih memperhitungkan lebih lanjut.
"Jadi, dengan menggabungkan semua hal ini, kami memperkirakan sedikit lebih banyak pelemahan Rupiah pada kuartal ini," kata Rao saat online briefing DBS Research, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, bank sentral sebenarnya sudah melakukan berbagai langkah untuk menahan pelemahan mata uang garuda. Seperti, Rao menyebut "intervensi pintar" yakni intervensi yang terukur di pasar valuta asing (valas). Kemudian aktif di instrumen Domestic Non-Deliverable Forward untuk menjaga stabilitas rupiah, memastikan kebutuhan valuta asing (FX) di pasar tetap tersedia, memperketat transaksi valas supaya tidak ada spekulasi berlebihan tanpa underlying transaksi nyata.
Rao menyebut langkah-langkah itu sebenarnya sudah umum dilakukan banyak bank sentral. Tetapi masalahnya, pelemahan rupiah yang tetap berlanjut menandakan adanya tekanan eksternal terhadap rupiah masih kuat.
Oleh karena itu, Rao menilai BI mungkin perlu membantu stabilisasi rupiah lewat kebijakan tambahan saat rapat bulan ini.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.460/US$ atau menguat 0,17%. Kondisi ini sekaligus membalikkan arah rupiah setelah pada pembukaan perdagangan pagi tadi sempat melemah 0,06% ke level Rp17.500/US$.
(haa/haa) Add
source on Google