MARKET DATA

Breaking News! Dolar AS Kian Dekati Rp17.500

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
12 May 2026 09:07
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pagi ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026) dibuka di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,43% ke level Rp17.480/US$.

Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan kemarin, rupiah juga ditutup melemah hingga kembali menembus level psikologis Rp17.400/US$, tepatnya di posisi Rp17.410/US$.

Sementara itu, per pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY terpantau menguat 0,16% ke posisi 98,104.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, khususnya arah dolar AS di pasar global.

Dolar AS bergerak lebih kuat setelah Presiden AS Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington. Kondisi ini menjaga kekhawatiran pasar terhadap potensi berlanjutnya konflik dan turut mendorong harga minyak lebih tinggi.

Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi rapuh setelah menolak respons Teheran terhadap proposal perdamaian AS. Situasi ini kembali memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan dapat berlanjut.

Ketidakpastian arah negosiasi AS-Iran membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Dalam kondisi seperti ini, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven masih berpotensi meningkat.

Menguatnya dolar AS di pasar global pada gilirannya dapat membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin sempit. Hal ini terjadi karena permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara minat terhadap aset berisiko cenderung tertahan.

Selain faktor eksternal, dari dalam negeri pelaku pasar juga menantikan rilis data penjualan eceran oleh Bank Indonesia untuk periode Maret 2026.

Pada Februari 2026, penjualan eceran mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 6,5%. Angka ini menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024, didorong oleh kuatnya belanja rumah tangga selama periode Ramadan.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Menguat 0,06%, Dolar AS Jadi Rp16.700 Pagi Ini!


Most Popular
Features