Hari Ini Penguman MSCI! OJK, Bursa, dan Danantara Buka Suara

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 12/05/2026 07:30 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Pelaku pasar bersiap menghadapi pengumuman hasil review indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada Selasa (12/5/2026), di tengah kekhawatiran potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global tersebut.

MSCI akan mengumumkan hasil tinjauan terhadap sejumlah indeks global, mulai dari MSCI Global Standard Indexes, MSCI Global Small Cap, MSCI Micro Cap Indexes, hingga MSCI Frontier Markets Small Cap Indexes. Sementara implementasi rebalancing akan efektif pada 29 Mei 2026.

Menjelang pengumuman tersebut, regulator hingga pelaku pasar kompak menilai reformasi pasar modal Indonesia memang berpotensi memicu tekanan jangka pendek, namun diyakini akan berdampak positif dalam jangka panjang.


Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pengumuman MSCI, sembari menegaskan langkah reformasi pasar modal yang dilakukan regulator merupakan bagian dari upaya memperkuat integritas pasar.

"Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain," ujar Friderica di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5/2026).

Ia mengakui MSCI sebelumnya telah melakukan freeze sehingga peluang masuknya saham baru ke indeks relatif terbatas, sementara saham-saham lama berpotensi mengalami penyesuaian.

OJK juga berharap Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori emerging market pada review MSCI berikutnya di Juni 2026, di tengah isu potensi penurunan status menjadi frontier market.

Menurut Friderica, kualitas keterbukaan informasi dan integritas pasar modal Indonesia terus mengalami perbaikan dan menjadi salah satu yang terbaik secara regional.

Senada dengan OJK, Bursa Efek Indonesia juga mengakui adanya potensi penurunan bobot Indonesia di MSCI dalam jangka pendek apabila tidak ada saham baru yang masuk indeks.

PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan langkah reformasi yang dilakukan BEI memang sejalan dengan pendekatan MSCI terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholder concentration (HSC).

Sebelumnya, BEI telah mengeluarkan sejumlah saham kategori HSC dari indeks IDX80, LQ45, dan IDX30.

"Kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, dalam jangka pendek mungkin saja bobot Indonesia turun. Tetapi itu adalah short term pain untuk long term gain," ujar Jeffrey.

BEI menegaskan reformasi pasar modal akan terus dilanjutkan, termasuk mendorong peningkatan free float emiten agar memenuhi standar global.

MSCI sebelumnya memang menyoroti sejumlah aspek reformasi pasar modal Indonesia, mulai dari peningkatan free float minimum menjadi 15%, transparansi data pemegang saham di atas 1%, hingga peningkatan kualitas tata kelola pasar.

Di sisi lain, Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menilai pasar tidak perlu terlalu khawatir terhadap pengumuman MSCI12 Mei 2026. Menurutnya, BEI telah menjalankan berbagai langkah perbaikan yang sebelumnya diminta MSCI.

"Kita tunggu saja. Seharusnya kan semua sudah dimasukkan juga. Saya sudah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan. Insyaallahbaik lah," kata Pandu.

Ia juga menilai pelemahan IHSG pada perdagangan Senin lebih dipengaruhi sentimen global seperti pergerakan rupiah dibanding faktor MSCI.

Menjelang pengumuman MSCI, IHSG sempat terkoreksi lebih dari 1% pada awal perdagangan Senin sebelum memangkas pelemahan.Pada akhir perdagangan IHSGditutup di level 6.905,62, turun 63,78 poin atau -0,92%.

Sementara itu, Mandiri Sekuritas menilai tekanan terhadap pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini lebih dipengaruhi meningkatnya risk aversion investor asing terhadap emerging markets.

Equity Research Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat mengatakan investor asing sebenarnya tidak sepenuhnya keluar dari Indonesia, melainkan melakukan rotasi aset dari saham ke obligasi pemerintah.

Dalam dua bulan terakhir, arus dana asing justru tercatat masuk ke pasar obligasi domestik.

Meski demikian, Mandiri Sekuritas tetap mempertahankan target IHSG di level 9.050 pada akhir 2026, walau membuka peluang revisi akibat risiko global dan tekanan profitabilitas.

Kresna juga menilai reformasi pasar modal yang dilakukan OJK berpotensi menjadi katalis pemulihan saham-saham perbankan dan konsumer yang selama ini paling tertekan akibat aksi jual asing.

Menurutnya, terdapat diskrepansi antara fundamental pasar saham Indonesia yang relatif murah dengan sikap investor asing yang masih berhati-hati karena mengikuti komposisi indeks MSCI.

Di tengah tekanan asing tersebut, investor ritel domestik justru menjadi penopang utama pasar saham nasional dengan porsi kepemilikan yang kini mencapai sekitar 50%.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Risiko RI Keluar Dari Indeks Emerging Market Mereda