Bank Mandiri (BMRI) Bidik IHSG 9.050 di Akhir Tahun, Ini Katalisnya

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Senin, 11/05/2026 20:25 WIB
Foto: Gedung Bank Mandiri. (Dok. Bank Mandiri)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan tetap mencapai level psikologis 9.000 pada akhir tahun 2026. Tepatnya, indeks dibidik dapat mencapai 9.050 meskipun secara year to date (ytd) indeks sudah turun 17%.

Meski demikian, Equity Research Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat mengatakan ada potensi revisi ke bawah, lantaran masih ada risiko global dan profitabilitas menurun.

"IHSG ke depannya kami masih menjaga target IHSG kami di 9.050 point. Tetapi kembali memang kami melihat potensi revisi ke bawah, mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban energi ke depannya," kata Kresna dalam Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin (11/5/2026).


Ia menilai pelemahan performa pasar saham RI sepanjang awal tahun ini berkolerasi dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sebab, para investor asing melihat risiko di emerging markets tengah meningkat.

Meski demikian, Kresna menyorot bahwa para investor luar itu tidak benar-benar "kabur" dari Indonesia. Saat ini, mereka lebih memilih memindahkan dananya dari saham ke obligasi.

"Dalam dua bulan terakhir kami mencatat adanya arus investasi asing ke pasar obligasi nasional kita. Dan menurut kami itu merupakan salah satu strategi investor asing untuk merotasi aset dari equity ke bonds kita ya, mengingat risk aversion behavior tersebut," ujarnya.

Performa IHSG jauh lebih buruk dibanding negara peers dikarenakan tekanan jual asing yang besar, terutama di saham bank dan konsumer yang memiliki bobot besar di IHSG. Sebaliknya, saham-saham sektor komoditas seperti emas, batu bara, dan yang lainnya justru relatif kuat.

"Jadi sebenarnya Indonesia tidak sebenarnya ditinggalkan, karena emiten-emiten komoditas ini salah satu menjadi sektor penopang performa IHSG sepanjang tahun ini," tutur Kresna.

Mandiri Sekuritas juga melihat ada beberapa katalis potensi reversal saham-saham perbankan dan konsumer. Terlebih, dengan adanya upaya reformasi pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kresna kemudian menyoroti bagaimana investor ritel menjadi penopang penting IHSG, tercermin dari kepemilikan investor individu di pasar saham yang mencapai 50%. Mereka disebut sebagai "pejuang pasar modal" yang justru masuk kala investor asing keluar.

Sementara itu, investor asing masih berhati-hati karena mengikuti indeks MSCI. Oleh karena itu, Kresna menyebut adanya diskrepansi, yakni ketidaksesuaian antara kondisi fundamental pasar saham Indonesia yang valuasinya rendah, dengan aliran dana asing yang enggan masuk.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bank Mandiri Cetak Laba Rp 15,4 Triliun di Kuartal I-2026