MSCI Dulu Cuma Proyek Kecil, tapi Kini Buat Investor Ketar-Ketir
Jakarta, CNBC Indonesia - MSCI akan mengumumkan rebalancing indeks terbaru terhadap pasar saham Indonesia pada besok, Selasa (12/5/2026). Pengumuman ini menjadi perhatian besar pelaku pasar karena keputusan MSCI kerap memengaruhi arah masuk-keluarnya dana asing di bursa Indonesia.Â
Di banyak negara, indeks MSCI memang dikenal sangat berpengaruh. Ketika sebuah saham masuk indeks MSCI, investor global biasanya ikut membeli saham tersebut agar portofolionya sesuai dengan komposisi indeks. Sebaliknya, jika suatu saham atau bahkan sebuah negara terancam keluar dari indeks, pasar bisa langsung terguncang akibat tekanan jual investor asing.
Namun, di balik pengaruh besarnya saat ini, MSCI ternyata bermula dari proyek kecil penyedia data pasar saham global pada akhir 1960-an.
Mengutip situs resmi MSCI, kemunculannya tak terlepas dari banyaknya investor Amerika Serikat yang ingin membeli saham luar negeri. Namun, mereka saat itu kebingungan karena belum ada acuan global yang bisa digunakan untuk mengukur kinerja pasar saham internasional secara seragam.
Kondisi tersebut membuat Capital International, divisi riset milik Capital Group, menyusun indeks saham internasional pada 1968. Indeks itu menjadi salah satu sistem pertama yang memetakan performa saham di berbagai negara secara terukur.
Pada 1986, Morgan Stanley membeli lisensi indeks tersebut dan menggabungkannya dengan nama perusahaan. Dari sinilah lahir Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
Seiring makin terintegrasinya pasar keuangan global, MSCIÂ yang awalnya hanya proyek kecil dari satu divisi riset berkembang menjadi standar utama investor institusi dunia. Salah satu produk paling terkenalnya adalah MSCI Emerging Markets Index yang berisi saham-saham negara berkembang seperti Indonesia, India, Brasil, hingga China.
Masuk ke indeks MSCI dianggap prestise tersendiri karena menunjukkan suatu pasar dinilai cukup layak dari sisi likuiditas, transparansi, dan akses investasi. Efeknya juga nyata. Ketika sebuah saham masuk indeks MSCI, banyak dana investasi pasif otomatis ikut membeli saham tersebut.
Akibat dana kelolaan investor global sangat besar, perubahan kecil dalam indeks MSCI saja bisa menggerakkan pasar saham suatu negara.
Transformasi besar MSCI terjadi pada 2004 saat perusahaan itu mengakuisisi Barra, perusahaan spesialis analisis risiko portofolio. Sejak itu MSCI tidak hanya dikenal sebagai penyusun indeks, tetapi juga penyedia data investasi dan analisis risiko global.
Kini juga MSCI menyediakan layanan analisis ESG (Environmental, Social, Government), pengukuran risiko investasi, hingga data iklim untuk investor global. Di Indonesia, nama MSCI menjadi sorotan tajam setelah memberikan pengumuman terkait pembekuan (freeze) sementara pada penyesuaian (rebalancing) dan perubahan free float saham Tanah Air pada Januari 2026. Akibatnya, selama beberapa hari Indeks Harga Sama Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam.Â
Meski begitu, hingga kini MSCI tetap menjadi salah satu lembaga indeks paling berpengaruh di dunia. Dari proyek kecil penyusun data saham internasional, MSCI kini menjelma menjadi "penentu arah" dana investasi global.
(mfa/mfa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]