Internasional

Michael Burry Tekan Alarm: Bursa Saham Kini Mirip "Bubble Dotcom 2000"

tfa, CNBC Indonesia
Senin, 11/05/2026 14:50 WIB
Foto: Profil Michael Burry (Getty Images via AFP/ASTRID STAWIARZ)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor legendaris Michael Burry memperingatkan reli saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Wall Street berpotensi berakhir brutal. Menurutnya, euforia pasar saat ini mulai menyerupai fase akhir gelembung dot-com pada 1999-2000 sebelum akhirnya runtuh.

Tokoh yang dikenal lewat film The Big Short itu menilai investor kini terlalu terobsesi pada AI hingga mengabaikan data ekonomi fundamental. Burry sendiri sebelumnya adalah investor yang  berhasil memprediksi krisis finansial global 2008 jauh sebelum terjadi.

"AI benar-benar tanpa henti. Tidak ada yang membicarakan hal lain sepanjang hari," tulis Burry dalam unggahan di platform Substack setelah mengikuti siaran televisi dan radio keuangan selama perjalanan panjang, seperti dikutip CNBC International, Senin (11/5/2026).


Burry mengatakan pergerakan pasar saham AS kini tidak lagi mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya. Ia mencontohkan indeks S&P 500 yang tetap mencetak rekor tertinggi meski sentimen konsumen melemah.

"Saham tidak naik atau turun karena pekerjaan atau sentimen konsumen," tulisnya. "Mereka terus naik karena memang sudah naik sejak lama. Berdasarkan tesis dua huruf yang semua orang kira mereka pahami. ... Terasa seperti bulan-bulan terakhir gelembung 1999-2000."

Ia juga menyoroti lonjakan Philadelphia Semiconductor Index yang dinilai mirip dengan pola kenaikan saham teknologi menjelang pecahnya gelembung dot-com pada Maret 2000. Indeks semikonduktor itu melonjak lebih dari 10% dalam sepekan dan telah menguat sekitar 65% sepanjang 2026.

Dalam dua tahun terakhir, saham terkait AI memang menjadi motor utama penguatan Wall Street. Saham perusahaan semikonduktor hingga raksasa teknologi yang terlibat dalam pengembangan infrastruktur dan perangkat lunak AI melesat tajam seiring demam AI generatif.

Peringatan serupa sebelumnya juga disampaikan investor hedge fund Paul Tudor Jones. Dalam wawancara dengan media, Jones menyebut kondisi pasar saat ini mengingatkannya pada 1999, setahun sebelum gelembung saham teknologi pecah.

Meski menilai reli AI masih bisa berlanjut satu hingga dua tahun lagi, Jones mengingatkan risiko koreksi tajam jika valuasi saham terus melonjak.

"Bayangkan saja pasar saham naik lagi 40%," kata Jones. "PDB pasar saham mungkin akan mencapai 300%, 350%. Anda pasti tahu bahwa akan ada beberapa ... koreksi yang sangat mengejutkan."


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Merdeka Copper Gold Siapkan Private Placement Jumbo