IHSG Ambruk 1% Lebih, Bursa Korea - Singapura Malah Pesta Pora
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja pasar saham Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada awal perdagangan hari ini (11/5/2026). Dinamika bursa regional dipengaruhi oleh perkembangan makroekonomi global, salah satunya adalah pergerakan harga komoditas energi.
Harga minyak mentah jenis Brent terpantau kembali mengalami kenaikan hingga menyentuh level US$103 per barel. Peningkatan harga minyak ini memberikan sentimen yang beragam bagi pasar ekuitas di kawasan Asia, bergantung pada posisi masing-masing negara terhadap paparan energi global.
Dinamika Pasar Regional
Di tengah sentimen harga minyak tersebut, indeks KOSPI Korea Selatan memimpin penguatan bursa regional dengan kenaikan signifikan sebesar 4,55% ke level 7839,36.
Tren positif ini turut diikuti oleh bursa saham China daratan, di mana indeks CSI 300 mencatatkan apresiasi sebesar 1,08% ke posisi 4924,71. Selanjutnya, indeks TAIEX Taiwan dan STI Singapura juga membukukan penguatan pada awal transaksi, masing-masing naik sebesar 0,54% menjadi 41828,27 dan 0,14% menjadi 4928,70.
Penguatan pada sejumlah indeks ini mengindikasikan adanya aliran dana masuk dari pelaku pasar ke pasar saham tertentu di tengah fluktuasi komoditas.
Sebaliknya, beberapa bursa utama Asia lainnya mengalami tekanan dan tertahan di zona merah. Indeks SENSEX India tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,66% menjadi 77328,19.
Penurunan tersebut disusul oleh indeks HSI Hong Kong yang terkoreksi 0,49% ke level 26264,37, serta indeks Nikkei 225 Jepang yang melemah 0,26% ke posisi 62551,33.
Faktor Pemberat IHSG
Secara khusus, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi paling dalam pada pembukaan perdagangan kawasan Asia hari ini. IHSG tercatat melemah cukup tajam, yakni turun 1,36% ke posisi 6874,62.
Pelemahan indeks domestik ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi utamanya diakibatkan oleh sentimen spesifik dari dalam negeri. Penurunan IHSG merespons pengumuman pemerintah mengenai rencana perubahan regulasi royalti komoditas yang baru.
Rencana kebijakan ini diantisipasi dapat menekan margin keuntungan emiten-emiten di sektor pertambangan yang memiliki bobot kapitalisasi pasar besar, sehingga memicu aksi jual oleh para investor dan membebani pergerakan indeks secara keseluruhan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google