Rupiah Masih Tertekan, Nilai Tukar Dolar AS Melesat ke Rp17.280
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup di level terendah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/4/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.280/US$ atau terdepresiasi 0,64%. Level ini sekaligus menjadi posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang masa yang baru.
Sepanjang perdagangan, rupiah memang sudah dibuka melemah pada pagi hari, yakni turun 0,21% ke level Rp17.210/US$. Tekanan terhadap rupiah kemudian terus membesar seiring berjalannya perdagangan. Bahkan, mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.320/US$ sebelum akhirnya sedikit memangkas pelemahan hingga penutupan.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih berada di zona hijau dengan penguatan 0,07% ke level 98,658.
Pelemahan rupiah sepanjang perdagangan hari ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang kembali mendorong permintaan terhadap dolar AS. Dolar menguat mendekati level tertinggi dalam sekitar satu setengah pekan, di tengah kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat serta belum terlihatnya kemajuan berarti dalam perundingan damai.
Ketegangan tersebut ikut mendorong harga minyak kembali menembus US$100 per barel, sehingga membebani sentimen pasar global.
Situasi memanas setelah Teheran menyita dua kapal di Selat Hormuz pada Rabu, sementara Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa ada kepastian kapan pembicaraan damai akan dimulai kembali.
Kedua pihak juga masih terbelah dalam sejumlah isu utama, mulai dari gencatan senjata, blokade, isu nuklir, hingga kendali atas Selat Hormuz. Akibatnya, jalur strategis tersebut secara efektif masih terganggu dan memicu guncangan energi yang memberi tekanan pada perekonomian global.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan, ambrolnya rupiah hari ini masih dipicu sentimen negatif pelaku pasar terhadap dinamika konflik di Timur Tengah, serta harga minyak yang terus bergejolak.
Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri, seiring masuknya periode musiman pembayaran dividen.
"Selain isu harga minyak dan kondisi di Timur Tengah, ada seasonal demand juga untuk pembayaran dividen," kata David kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Sementara itu, Kepala Ekonom dan Riset Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai pergerakan ini juga mencerminkan langkah Bank Indonesia yang melakukan stabilisasi kurs secara lebih terukur.
Menurutnya, BI kini mulai melakukan intervensi di pasar valuta asing secara lebih hati-hati agar cadangan devisa Indonesia tidak tergerus terlalu dalam.
(evw/evw) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]