BI Melek Pagi Siang Sore Sampai Malam Jaga Rupiah dari Amukan Dolar
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tengah terjadi hingga saat ini membuat Bank Indonesia (BI) memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas kurs di pasar keuangan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, bank sentral terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar AS.
"Secara terukur, continue BI akan masuk di market, spot, NDF, DNDF, kita juga akan perluas basis pelaku nanti untuk NDF di luar. Hari ini NDF terbang di atas Rp 17.100/US$. Itu belum ada transaksi real di sana," kata Destry dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia, Senin (13/4/2026).
Bahkan, langkah kebijakan intervensi BI di luar negeri kata Destry kini dalam tahan stand by 24 jam. Artinya, BI sewaktu-waktu bisa mengambil langkah-langkah terukur untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di berbagai negara.
"Jadi BI 24 jam, karena misal dari jam pasar Singapura buka, kita sudah buka juga. Kita tutup jam 3, Eropa masih jalan pasarnya. Jam 9 pagi AS, Amerika buka, kita melek, kita optimalkan kanwil di luar negeri di London dan New York. Tapi sambil kita jaga likuiditas," ucap Destry.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (13/4/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan di zona merah pada level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir, Jumat (10/4/2026), rupiah juga ditutup melemah tipis 0,03% ke posisi Rp17.085/US$.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,37% ke level 99,010.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global.
Dolar AS melonjak terhadap mata uang utama dunia seiring investor kembali memburu aset aman setelah pembicaraan panjang antara Washington dan Teheran belum menghasilkan kesepakatan damai. Kondisi ini membuat pasar kembali dibayangi ketidakpastian yang telah berlangsung hingga pekan ketujuh.
(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]