MARKET DATA

Purbaya: AS-Iran Damai Rupiah Menguat, IHSG Naik Hampir 3%

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
08 April 2026 16:12
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat tiba di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/4/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat tiba di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/4/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara mengenai penguatan nilai tukar Rupiah yang menguat pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Menurutnya hal ini disebabkan berkurangnya dari ketidakpastian global yang ditandai kesepakatan gencatan senjata antara AS-Israel dan Iran.

"Hehe, kok lu pada takut? ketidakpastian global berkurang kan, Itu berdamai, otomatis Rupiah menguat. Dan IHSG hampir 3% tadi. Kalau global, kan bagus kondisinya jadi kalau sentimennya hilang ya sudah kelihatan lagi fondasi dasar," kata Purbaya, di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (8/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan sore ini di zona hijau dengan apresiasi 0,50% ke level Rp17.005/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah yang terjadi dalam tiga hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat dibuka lebih perkasa di level Rp16.970/US$ atau menguat 0,70%. Namun, sebagian penguatan tersebut tergerus hingga di posisi penutupan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tajam 1,06% ke posisi 98,800. Pelemahan ini membuat DXY kembali turun ke bawah level psikologis 100.

Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini terutama didorong oleh faktor eksternal, yakni melemahnya dolar AS di pasar global setelah muncul pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks dolar AS jatuh ke level terendah dalam dua pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan melancarkan serangan luas terhadap infrastruktur sipil Iran apabila Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, kurang dari dua jam sebelum tenggat tersebut berakhir, pasar justru berbalik lebih optimistis setelah muncul kabar adanya jeda konflik. Trump juga menyebut AS telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai cukup layak menjadi dasar negosiasi.

Selain itu, Iran juga dilaporkan bersedia membuka kembali jalur vital Selat Hormuz selama dua pekan dengan syarat seluruh serangan dihentikan. Israel pun disebut telah menyetujui gencatan senjata tersebut.

Kondisi ini mendorong pelaku pasar beralih ke aset berisiko dan menekan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Dampaknya, mata uang negara lain, termasuk rupiah, mendapat ruang untuk menguat.

Bank Indonesia (BI) juga menegaskan fokusnya saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter untuk menjaga kestabilan nilai tukar.

"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI). Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar," kata Destry dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).

Destry menambahkan, BI secara konsisten dan terukur melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

(emy/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Ditutup Menguat Hari Ini, Dolar AS Turun Ke Rp16.645


Most Popular
Features