Bos BI Buka-bukaan Alasan Dolar AS Perkasa Hingga Tembus Rp17.000
Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan deretan faktor yang menyebabkan dolar Amerika Serikat terus menguat saat ini, hingga mampu menekan nilai tukar rupiah tembus Rp 17.000/US$.
Ia mengatakan, kondisi itu tak terlepas dari gejolak di pasar keuangan sejak Amerika Serikat dan Israel menggempur Iran mulai akhir Februari 2026 hingga kini. Perang antar negara itu membuat harga minyak mentah dunia meledak hingga mengganggu perdagangan dunia dan aliran modal asing.
"Terjadi penguatan dolar AS yang kelihatan di sana," kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Perry menjelaskan rentetan penguatan dolar AS itu mulanya terjadi karena sentimen negatif pelaku pasar keuangan terhadap harga minyak mentah dunia yang meroket. Sebab, perang itu turut membuat jalur utama perdagangan energi dunia terganggu, yakni Selat Hormuz.
"Harga minyak yang meroket sejak Februari ke Maret bahkan kemarin pernah US$ 122,95 dan itu terus naik turun dan juga harga emas selama 2025 meningkat dan masih tinggi, itu dampak pertama," tegas Perry.
Selanjutnya, suku bunga yield surat berharga pemerintah AS yakni US Treasury tenor2 tahun maupun 10 tahun meningkat pesat. Padahal, pada tahun lalu kedua tenor itu tengah mengalami tren penurunan.
"Untuk yang tenor 2 tahun itu tahun lalu turun cepat, dan 10 tahun juga meski gak cepat. Tapi karena perang, dua duanya meingkat pesat karena kenaikan defisit fiskal AS untuk anggaran perang. Kelihatan di sana yang sebabkan berdampak ke Indonesia," paparnya.
Permasalahan harga minyak dan yield obligasi pemerintah AS tentu kata dia berdampak langsung terhadap masalah rambatan berikutnya, yakni aliran modal asing yang langsung deras keluar dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia ke AS. Akibatnya, dolar menjadi makin kuat.
"Portofolio inflow tahun lalu, ada tren naik meski volatilitas. Tapi sejak tahun ini outflow besar dari emerging market, baik dalam bentuk obligasi, saham, dan lain-lain," kata Perry.
Meski begitu, penting dicatat bahwa pada hari ini, mata uang garuda mengawali perdagangan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Rabu (8/4/2026), rupiah dibuka menguat ke level Rp16.970/US$ atau terapresiasi sebesar 0,70%.
Penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Selasa (7/4/2026), rupiah ditutup melemah tajam ke posisi Rp17.090/US$.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) per pukul 09.00 WIB terpantau berada di zona merah dengan pelemahan 0,94% ke level 98,918.
(arj/mij) [Gambas:Video CNBC]