Laba Amman Mineral (AMMN) Anjlok 60%, Ada Apa?

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Kamis, 26/03/2026 13:40 WIB
Foto: Tambang Batu Hijau, Sumbawa/Dok Amman Mineral, Detik

Jakarta, CNBC Indonesia — Emiten tambang emas dan tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan penurunan laba bersih yang signifikan pada 2025. AMMN mencetak laba bersih US$258 juta, anjlok 60% secara tahunan atau year on year (yoy) dari setahun sebelumnya sebesar US$642 juta.

Berdasarkan siaran pers perusahaan, volume material yang ditambang pada 2025 turun 9% yoy. AMMN menyebut penurunan ini wajar mengingat tahun 2024 merupakan puncak volume penambangan, salah satu yang tertinggi sepanjang umur tambang Batu Hijau.

Kegiatan penambangan sepanjang tahun berfokus pada pengupasan lapisan batuan penutup dan penambangan bagian terluar bijih Fase 8 yang ditandai dengan bijih berkadar rendah hingga menengah.


Volume bijih segar yang ditambang meningkat 60% yoy, tapi kadar bijih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai dampaknya, jarak angkut yang lebih jauh, harga bahan bakar yang lebih tinggi, serta volume material yang ditambang yang lebih rendah-biaya penambangan per unit tahun 2025 meningkat 10% yoy, dari US$2,24/t menjadi US$2,54/t.

Produksi konsentrat mencapai 446.563 metrik ton kering pada 2025, turun 41% yoy. Produksi tembaga dan emas masing‐masing sebesar 209 juta pon dan 102.758 ons, mencerminkan penurunan tahunan sebesar 47% dan 87%.

Meski demikian, produksi konsentrat setahun penuh melampaui panduan kinerja sebesar 4% dan produksi emas sebesar 14%, sementara produksi tembaga 8% di bawah target.

Emiten yang terafiliasi Grup Salim itu mengatakan bahwa mulai tahun 2025, perseroan hanya diizinkan menjual produk logam jadi, seperti katoda tembaga dan emas murni, tidak dalam bentuk konsentrat seperti pada tahun 2024. Namun demikian, AMMN memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada 31 Oktober 2025, yang berlaku selama enam bulan.

Transisi ini mengakibatkan penjualan bersih yang lebih rendah, yaitu US$1.847 juta pada tahun 2025, dibandingkan sekitar US$2.664 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan tersebut terdiri dari US$806 juta dari katoda tembaga, yang mulai diproduksi pada Q2 US$454 juta dari emas murni, yang produksi perdananya dimulai pada Q3, serta US$587 juta dari konsentrat yang dijual pada Q4.

"Kinerja keuangan tahun 2025 mencerminkan dampak larangan ekspor konsentrat di awal tahun serta proses ramp‐up smelter. Meski demikian, kami membukukan penjualan bersih sebesar US$1.847 juta, dengan kinerja yang menguat di paruh kedua, di mana kontribusi Q4 mencapai sekitar 70% dari penjualan setahun penuh seiring stabilnya operasi smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR)," kata Arief Sidarto, Direktur Utama AMMN dalam keterangan resminya, Kamis (26/3/2026).

Ia menyebut tahun 2025 merupakan tahun transisi, termasuk dimulainya penambangan Fase 8 dan tantangan ramp‐up smelter yang memberikan tekanan sementara terhadap margin.

Memasuki tahun 2026, Arief mengatakan prioritas utama AMMN adalah memastikan kinerja smelter yang stabil dan berkelanjutan.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Emas Tak Lagi Aman? Perang Iran Mengubah Segalanya, Investor Terjebak