MARKET DATA

BI Warning Potensi Lonjakan Harga Cabai-Beras Efek Kemarau-Perang

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
17 March 2026 16:13
Aida S. Budiman Deputi Gubernur Bank Indonesia dalam acara pengumuman hasil rapat dewan Gubernur, Oktober 2024 dengan cakupan tahunan. (Tangkapan layar Youtube Bank Indonesia)
Foto: Aida S. Budiman Deputi Gubernur Bank Indonesia dalam acara pengumuman hasil rapat dewan Gubernur, Oktober 2024 dengan cakupan tahunan. (Tangkapan layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mewanti-wanti potensi kenaikan harga-harga barang atau inflasi imbas konflik di Timur Tengah hingga masuknya periode kemarau panjang di Indonesia.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menjelaskan, khusus untuk konflik di Timur Tengah yang meletus akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, bisa memicu tekanan inflasi di Indonesia dari jalur gangguan rantai pasok global hingga tekanan harga-harga komoditas seperti di sektor energi.

"Ini tentunya akan mempunyai dampak kepada inflasi terutama dari jalur lantai pasokan maupun dari kenaikan harga komoditas. Itu yang harus kita lihat," ucap Aida saat konferensi pers hasil rapat dewan gubernur BI secara daring, Selasa (17/3/2026).

Sedangkan periode kemarau panjang, efek tekanan harga kata Aida akan mengarah kepada sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai-cabaian hingga jagung dan beras.

"Karena dari BMKG itu ada keterangan kemungkinan musim kemarau yang lebih kering dan datangnya lebih dini.
Jadi ini perlu kita perhatikan khususnya nanti untuk komoditas hortikultura seperti cabai-cabaian kemudian jagung maupun beras," ucap Aida.

Sebelumnya, BI mencatat, tekanan inflasi global juga meningkat dari 3,8% menjadi 4,1% efek perang di Timur Tengah, sehingga mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global, termasuk kemungkinan semakin tertundanya penurunan Fed Funds Rate (FFR).

Di dalam negeri, catatan inflasi terakhir per Februari 2026 juga terbilang masih tinggi, yakni mencapai 4,76% secara tahunan atau year on year (yoy). Terutama dipengaruhi oleh faktor temporer base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari dan Februari 2025.

Tekanan inflasi itu dipengaruhi komponen inflasi inti sebesar 2,63% (yoy) didorong oleh kenaikan harga emas, serta inflasi kelompok volatile food (VF) tercatat sebesar 4,64% (yoy), seiring meningkatnya permintaan pada periode perayaan HBKN Tahun Baru Imlek dan periode Ramadan 1447 H serta penurunan pasokan akibat gangguan cuaca.

(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: BPS Catat Inflasi Oktober 2025 Sebesar 2,86% (yoy)


Most Popular
Features