Mesin Laba BBCA Mulai Seret
Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih Rp 9,23 triliun, tumbuh 2,8% secara tahunan (yoy) per Februari 2026. Kendati berhasil menjaga pertumbuhan laba, capaian ini tertinggal dari ekspansi neraca.Â
Selain itu pertumbuhan laba tahun ini jauh melambat. Pada Februari 2025, laba BBCA tumbuh 8,43% yoy. Hal ini seiring dengan pendapatan bunga bersih perusahaan yang naik 5,97% yoy.
Pada bulan kedua tahun ini, bisnis utama BBCA tidak kuat mendorong pertumbuhan laba perusahaan. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBCA stagnan di kisaran Rp12,8 triliun.
Hal itu disebabkan oleh pendapatan bunga yang hanya naik 0,79% yoy, sedangkan beban bunga bank naik 6,88% yoy.Â
Padahal pada periode yang sama, kredit dan aset produktif masih mencatat pertumbuhan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, aset BBCA naik 9,5% yoy menjadi Rp 1.563 triliun.Â
Pertumbuhan aset tersebut ditopang oleh penyaluran kredit Rp 953 triliun, naik 5,8% yoy. Akan tetapi secara persentase surat berharga yang dimiliki tumbuh jauh lebih kencang, yakni 17,25% yoy menjadi Rp 444,85 triliun.
Pertumbuhan kredit tahun ini juga jauh melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Februari 2025, kredit BBCA melaju 13,98% yoy. Pun pertumbuhan surat berharga lebih kecil, yakni 9,6% yoy.Â
Beralih ke likuiditas, dana pihak ketiga (DPK) bank tumbuh 9,8% yoy menjadi Rp 1.227 triliun. Giro tercatat naik 22,27% yoy dan tabungan 7,28% yoy, sedangkan dana mahal, deposito turun 5,05% yoy.Â
Secara keseluruhan, kombinasi antara pertumbuhan kredit yang lebih lambat, stagnasi pendapatan bunga bersih, serta kenaikan beban bunga menjadi sinyal bahwa ruang ekspansi profitabilitas BBCA terbatas di tengah dinamika suku bunga dan likuiditas.
Kendati demikian, laba BBCAÂ per Februari 2026 ditopang oleh beban kerugian penurunan nilai atau impairment yang terkikis dari Rp 604,79 miliar menjadi Rp 491,11 miliar.
Selain itu BBCA juga mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan aset keuangan yang lebih besar, yakni Rp 450,66 miliar. Pada Februari tahun lalu pos ini tercatat lebih rendah, yaitu Rp 293,21 miliar.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]