MARKET DATA

Laba Bank Permata Naik 16% di Q1-2026, tapi Mesin Bisnis Utama Lesu

mkh,  CNBC Indonesia
28 April 2026 07:30
Permata Bank. (Dok. Permata Bank)
Foto: Permata Bank. (Dok. Permata Bank)

Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank Permata Tbk (BNLI) membukukan pertumbuhan laba pada kuartal I-2026. Namun di balik kinerja tersebut, sejumlah indikator menunjukkan pelemahan pada bisnis inti, perubahan struktur pendanaan, serta tanda awal pengetatan likuiditas.

Berdasarkan laporan keuangan, laba bersih Bank Permata tercatat sebesar Rp920,1 miliar pada kuartal I-2026, naik sekitar 16,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan Rp788,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski laba tumbuh dua digit, kinerja intermediasi belum menunjukkan penguatan yang sejalan. Penyaluran kredit masih mencatat pertumbuhan sekitar 2,7% yoy menjadi Rp149,5 triliun dari Rp145,6 triliun. Namun secara kuartalan, kredit justru mengalami kontraksi dibandingkan posisi akhir 2025, mengindikasikan momentum ekspansi yang melemah.

Sejalan dengan itu, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) justru turun menjadi Rp2,42 triliun dari Rp2,53 triliun, atau koreksi sekitar 4,3% yoy. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit yang terbatas belum mampu menopang pendapatan utama bank.

Pun bank mendapat tekanan dari margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang turun 26 basis poin secara tahunan menjadi 3,9%. 

Dari sisi pendanaan, rasio dana murah (CASA) tercatat meningkat menjadi sekitar 65,6% dari 58,6% secara tahunan. Namun kenaikan ini lebih dipengaruhi oleh penurunan signifikan deposito yang atau -18,2% yoy menjadi Rp63,47 triliun, serta peningkatan giro sebesar 13,3% yoy menjadi Rp75,05 triliun, sementara tabungan justru turun 7,2% yoy menjadi Rp45,83 triliun.

Kondisi tersebut mengindikasikan perubahan komposisi dana, di mana kontribusi dana yang cenderung lebih stabil seperti tabungan menurun, sementara kenaikan giro, yang umumnya lebih volatil menjadi pendorong utama.

Secara total dana pihak ketiga (DPK) Bank Permata turun 1,6% yoy menjadi Rp 184,35 triliun. Pada periode yang sama simpanan dari bank lain melonjak signifikan menjadi Rp7,05 triliun dari Rp3,24 triliun, atau naik sekitar 117% yoy. 

Seiring dengan kontraksi pada kinerja bank dalam menggalang dana, rasio simpanan terhadap kredit atau loan to deposit ratio (LDR) naik 388 basis poin secara tahunan menjadi 87,10%. 

Adapun di tengah tekanan pada bisnis inti, pertumbuhan laba justru ditopang oleh pendapatan non-inti. Keuntungan dari penjualan efek melonjak menjadi Rp180,98 miliar dari Rp56,64 miliar, atau naik sekitar 219% yoy. Sebaliknya, pendapatan trading justru turun sekitar 55,7% yoy, mencerminkan volatilitas pada sumber pendapatan non-bunga.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Laba Bank Mandiri November 2025 Naik 28,7% Mtm Gara-Gara Ini


Most Popular
Features