Internasional

'Malapetaka' Hantam Amerika, Risiko Tinggi Jatuh ke Jurang Stagflasi

sef, CNBC Indonesia
Selasa, 17/03/2026 09:10 WIB
Foto: Ekonomi AS (Infog/Arie Pratama)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah akan menempatkan Amerika Serikat (AS) pada "malapetaka" baru. Negara itu berisiko tinggi jatuh ke dalam jurang "stagflasi".

Hal ini dikatakan ekonom peraih Hadiah Nobel Joseph Stiglitz. Bahkan sebelum perang meletus pada 28 Februari dengan serangkaian serangan AS dan Israel terhadap Iran, Stiglitz mengatakan ekonomi AS sudah "mendekati stagflasi", merujuk ke perpaduan yang bermasalah antara inflasi tinggi dan pertumbuhan yang lemah.


"Ada sejumlah indikator pertumbuhan lambat sebelum perang", katanya dalam sebuah wawancara di markas besar PBB di Eropa di Jenewa, mengutip AFP, Selasa (17/3/2026).

"Ini hanya... mendorong kita melewati ambang batas," tegasnya.

Perang di Timur Tengah praktis menghentikan aktivitas di Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis, yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak mentah dunia dan sejumlah besar gas. Ini menyebabkan harga minyak melonjak.

Harga minyak global telah naik 40 hingga 50% setelah Iran menutup jalur air tersebu, menyerang target industri energi serta perkapalan di Teluk sebagai respons terhadap perang AS-Israel melawan republik Islam tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran akan guncangan pada sistem perdagangan global, yang sudah tertekan oleh serangan tarif Presiden AS Donald Trump serta fragmentasi rantai pasokan sejak pandemi Covid-19 dan perang Rusia di Ukraina.

Amerika Serikat Paling Berisiko

Lebih lanjut, ujar Stiglitz yang bersama-sama memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2001 untuk analisisnya tentang pasar dengan informasi asimetris, AS adalah negara yang paling berisiko mengalami stagflasi. Ia menunjuk hal yang sama selama guncangan minyak pada tahun 1970-an.

"Risiko stagflasi tampaknya cukup tinggi bagi AS," kata profesor di Universitas Columbia di New York itu.

"Situasi di tempat lain tidak begitu jelas... Meskipun Eropa tentu akan menghadapi tekanan inflasi pada sektor energi juga, mereka juga melihat stimulus pertumbuhan karena secara dramatis meningkatkan pengeluaran pertahanan, setelah Washington memperjelas bahwa Anda tidak dapat bergantung pada AS untuk pertahanan Anda," katanya sosok yang menjabat sebagai kepala ekonom di Bank Dunia pada akhir tahun 1990-an setelah menjadi ketua dewan penasihat ekonomi presiden AS Bill Clinton.

"Sementara itu, kebijakan Trump telah secara signifikan melemahkan ekonomi AS bahkan sebelum perang," tegasnya.

Indikator

Ada beberapa indikator yang dikatakan Stiglitz mengkhawatirkan. Seperti kurangnya pertumbuhan angkatan kerja pada tahun 2025 dan kenaikan pengangguran bulan lalu.

"Dan, meskipun ada pertumbuhan, pertumbuhan tersebut tidak seimbang", katanya.

"Sekitar sepertiga berasal dari pembuatan pusat data kecerdasan buatan," jelasnya merujuk pasar saham berkinerja baik karena didominasi oleh perusahaan AI dan teknologi.

"Jika Anda melihat pasar saham lainnya, kondisinya sangat lesu," tambahnya.

Trump Hancurkan Kepercayaan

Pada saat yang sama, Stiglitz juga mengatakan ia memperkirakan kebijakan tarif Trump akan meningkatkan inflasi.

Biasanya, ketika menerapkan tarif, suatu negara dapat mengharapkan nilai mata uangnya meningkat, karena negara tersebut membeli lebih sedikit barang dari luar negeri, yang seharusnya menurunkan inflasi. Namun dalam kasus ini, ia menunjukkan bahwa "dolar telah melemah".

"Itu, karena Trump telah menghancurkan kepercayaan pada Amerika dan dolar," ujarnya.

"Dolar yang lebih lemah berarti bahwa, alih-alih inflasi yang lebih rendah akibat tarif, justru inflasi yang lebih tinggi... Semua yang kita impor menjadi lebih mahal dalam dolar," jelasnya lagi.

Ditambah lagi sekarang ada inflasi akibat perang, serta ketidakpastian yang lebih besar di kalangan rumah tangga dan bisnis. Ia menegaskan, bisnis "tidak dapat berinvestasi dalam keadaan seperti ini".

"Mereka tidak tahu berapa tarif yang akan dikenakan, (atau) berapa lama perang ini akan berlangsung. Mereka tidak tahu berapa harga energi nantinya," kata Stiglitz.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Terancam Tembus USD 200/barel Hingga IHSG Amblas