IHSG Sesi 1 Ditutup Melemah Tipis, Turun 0,06%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan sesi 1 hari ini, Kamis (5/2/2026).
Indeks ditutup turun 4,87 poin atau -0,06% ke level 8.141,85. Sebanyak 348 saham naik, 353 turun, dan 257 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 10,94 triliun, melibatkan 18,99 miliar saham dalam 1,51 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar mencapai Rp 14.676 triliun.Â
Sepanjang sesi 1, IHSG bergerak pada rentang 8.214,46–8.118,5. Volatilitas indeks masih terbilang tinggi. Setelah melambung naik 0,83% pada awal perdagangan, indeks terjun ke level terendah sesi 1 pada sekitar pukul 10.00 WIB.Â
IHSG kemudian bangkit, tetapi tidak cukup kuat dan berakhir koreksi tipis pada jeda makan siang.Â
Mengutip Refinitiv, konsumer siklikal menjadi pemberat utama dengan penurunan -1,75%. Kemudian teknologi, bahan baku, dan kesehatan, masing-masing turun -1,6%, -1,43%, -1,25%, dan -1,03%.Â
Kendati IHSG mengalami koreksi, sejumlah saham blue chip yang tergabung di dalam indeks LQ45 menguat. Indeks LQ45 naik 0,45% dengan Unilever Indonesia (UNVR) melesat paling kencang, yakni 8,29%.Â
Saham perbankan juga masih melanjutkan penguatan. Bank Mandiri (BMRI) naik 2%, Bank Syariah Indonesia (BRIS) naik 2,08%, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 1,29%, dan Bank Negara Indonesia ((BBNI) 0,22%.Â
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BBTN) koreksi 1,12%, setelah menguat 9,39% pada perdagangan kemarin.Â
Adapun IHSG hari ini mendapatkan angin segar dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mampu tumbuh ke level 5,11% ditopang oleh seluruh komponen pembentuknya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adhininggar Widyasanti mengatakan, komponen konsumsi masyarakat, investasi, hingga ekspor mampu tumbuh cepat mendorong laju pertumbuhan.
Laju pertumbuhan ekonomi ini mampu tumbuh jauh lebih cepat dari realisasi pada 2024 yang sebesar 5,03% yoy, dan serupa dengan target pemerintah yang tertera dalam asumsi makro APBN 2025 sebesar 5,2% yoy.
Amalia menjelaskan, untuk konsumsi rumah tangga, pertumbuhannya sebesar 4,98% sepanjang tahun lalu dengan distribusi terhadap PDB besarannya hingga 53,88%.
Lalu, untuk investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pertumbuhannya mampu tembus 5,09%, dengan kontribusi ke PDB kedua terbesar, yakni 29,77%.
Adapun pertumbuhan tertinggi berasal dari ekspor dengan besaran 7,03% dan porsinya terhadap PDB 22,85%. Diikuti konsumsi pemerintah yang tumbuh 2,5% dengan distribusi ke PDB 7,53%.
Terakhir, untuk konsumsi LNPRT pertumbuhannya juga mampu ke level 5,13% dengan distribusi terhadap PDB 1,35%. Sedangkan impor tumbuhnya 4,77% dengan kontribusi minus 20,54%.
(mkh/mkh)[Gambas:Video CNBC]