IHSG Masih Dalam Tekanan, Pagi Ini Dibuka Turun 3,52%

mkh, CNBC Indonesia
Kamis, 29/01/2026 09:01 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/ IHSG (CNBC Indonesia/Muhammad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi tajam pagi ini, Kamis (29/1/2026). Indeks dibuka turun 292,73 poin atau -3,52% ke level 8.027,83. 

Sebanyak 303 saham turun, 91 naik, dan 564 tidak bergerak. Nilai transaksi melambung tinggi pagi ini, yaitu Rp 1,66 triliun, melibatkan 1,05 miliar saham dalam 83.040 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 14.513 triliun. 

Pergerakan pasar keuangan hari ini masih akan dibayangi sejumlah sentimen penting. Pelaku pasar akan mencermati hasil rapat FOMC The Fed, serta lanjutan pasca keputusan MSCI yang memicu tekanan tajam di IHSG, hingga rilis data neraca dagang Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan imbal hasil obligasi global.


Sebagaimana diketahui, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.

Sementara itu, Goldman Sachs menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi underweight, menyusul peringatan dari indeks global MSCI.

Dalam laporan terbarunya, bank investasi asal Amerika Serikat itu memperkirakan aksi jual pasif (passive selling) oleh investor global masih akan berlanjut, seiring keputusan MSCI yang menilai pasar saham Indonesia menghadapi persoalan struktural, khususnya terkait kepemilikan saham dan free float.

"Kami memperkirakan akan ada lanjutan passive selling dan menilai perkembangan ini akan menjadi overhang yang menahan kinerja pasar," tulis analis Goldman Sachs, sembari memangkas outlook Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight, dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).

Dalam perkembangan terpisah, Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. Keputusan ini datang di tengah sorotan tajam terhadap independensi The Fed.

The Fed mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (30/1/2026) setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.

Seperti diketahui, The Fed pada 225 menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25-4,50% sebelum memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 menjadi 3,50-3,75%.

The Fed menahan suku bunga karena tiga faktor utama yakni dampak pemangkasan sebelumnya masih perlu waktu untuk dievaluasi, inflasi yang relatif tinggi, serta pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda stabil dan solid.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jika Suku Bunga Turun Lagi, Mana Investasi Yang Prospek Cuan?