CLOSE AD
MARKET DATA

Setelah Pengumuman MSCI, Goldman Sachs Pangkas Outlook Saham RI

mkh,  CNBC Indonesia
29 January 2026 08:55
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Goldman Sachs menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi underweight, menyusul peringatan dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Dalam laporan terbarunya, bank investasi asal Amerika Serikat itu memperkirakan aksi jual pasif (passive selling) oleh investor global masih akan berlanjut, seiring keputusan MSCI yang menilai pasar saham Indonesia menghadapi persoalan struktural, khususnya terkait kepemilikan saham dan free float.

"Kami memperkirakan akan ada lanjutan passive selling dan menilai perkembangan ini akan menjadi overhang yang menahan kinerja pasar," tulis analis Goldman Sachs, sembari memangkas outlook Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight, dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).

Sebagaimana diketahui, pada perdagangan kemarin, Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok hingga terkoreksi 7,35% ke level 8.320,56 atau turun 659,67 poin pada penutupan perdagangan. Bahkan pada level terendahnya IHSG sempat ambruk lebih dari 8% sehingga otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perhentian perdagangan sementara (trading halt).

IHSG ambruk merespons pengumuman MSCI terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari BEI.

Seiring tekanan besar di pasar saham, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) yang sangat besar yakni Rp6,17 triliun. Angka ini menjadi outflow harian asing terbesar sejak 16 April 2025, ketika saat itu tercatat outflow mencapai Rp8,21 triliun.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Irvan Susandy menekankan bahwa keterbukaan informasi emiten tetap menjadi ranah pengawasan bursa dan regulator.

Ia memastikan data yang disampaikan emiten telah melalui proses validasi ketat karena terdapat sanksi tegas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) apabila ditemukan ketidaksesuaian di kemudian hari. "Keterbukaan informasi itu harus benar. Kalau data tidak benar, OJK akan mengambil tindakan sesuai ketentuan," ujarnya di Gedung BEI, Rabu (28/1/2027).

Sementara itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan bahwa BEI, OJK, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah mencoba memenuhi permintaan MSCI.

Menurutnya, penyempurnaan data free float sudah dilakukan, tetapi proses tersebut membutuhkan waktu, sementara MSCI harus mengambil keputusan indeks pada tenggat tertentu. "Free float yang diminta datanya membutuhkan waktu. Dokumen pengembangan kami memang belum sepenuhnya sesuai metodologi mereka," jelas Iman.

Isu krusial lainnya terletak pada klasifikasi investor, khususnya kategori "corporate". Iman menilai, di Indonesia banyak korporasi yang berperan sebagai institusi aktif melakukan perdagangan, bukan semata pemegang saham strategis jangka panjang. "Ini yang perlu kami edukasikan ke MSCI, bahwa korporasi di Indonesia tidak selalu buy and hold," ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto meminta kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan evaluasi terkait dengan kendala yang dikeluhkan oleh penyedia layanan indeks acuan global MSCI.

Terkait alasan pelemahan indeks secara signifikan, Airlangga tidak menafikan peran besar MSCI, namun ikut memberikan catatan penting kepada otoritas bursa.

"Pertama ada teknikal MSCI, kedua tentu dari BEI bursa itu perlu untuk melakukan evaluasi mengenai apa yang diminta MSCI," jelas Airlangga, Rabu (28/1/2026).

Terkait transparansi pemegang saham free float di Bursa, Airlangga menilai hal tersebut merupakan persyaratan bagi seluruh penyelenggara pasar modal dan perlu dilakukan peningkatan dengan mekanisme yang sudah menjadi praktik utama di banyak negara.

Sementara itu secara terpisah, Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Perkasa Roeslani menilai laporan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) harus segera ditindaklanjuti yang merupakan penyebab Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) trading halt.

"Kita ketahui MSCI adalah acuan dari para investor dunia pada saat dia berinvestasi di negara-negara. Nah itu tentunya kita harus segera tindak lanjuti mengenai masukan dari MSCI," ungkap Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026)

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal situasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang jatuh sejak pembukaan pagi tadi, dan mengingatkan agar investor tidak perlu panik.

"Nggak usah takut," kata Purbaya saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Menurutnya, jatuhnya harga saham saat ini lebih disebabkan faktor teknis setelah MSCI menilai masih adanya persoalan serius pada transparansi dan penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes, meski BEI telah melakukan perbaikan minor.

"Jadi ini hanya shock sesaat, jadi pasti perusahaan-perusahaan itu akan bisa menyesuaikan MSCI dan bisa masuk ke indeksnya MSCI maupun saham yang boleh diinvestasi oleh perusahaan-perusahaan asing global," tegas Purbaya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Oleh sebab itu, ia menegaskan kepada para investor domestik maupun global bahwa dalam waktu dekat kinerja saham Indonesia akan kembali menghijau ke depannya dan terus menguat, Maka, ia tak segan menyatakan bahawa saat ini sebetulnya waktu yang tepat bagi investor untuk membeli kembali saham-saham di BEI.

"Dan kita tahu itu akan diperbaiki dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sebelum bulan Mei harusnya sekarang it's a good time to buy," tegas Purbaya.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Dibuka Menguat, Tapi Langsung Balik Arah ke Zona Merah


Most Popular
Features