Bos BI Yakin Rupiah Bakal Kembali Kuat, Ini Alasannya!

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Rabu, 21/01/2026 14:28 WIB
Foto: Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Januari 2026 dengan Cakupan Triwulanan. (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) yakin nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depannya. Perbaikan ini akan ditopang oleh yield atau imbal hasil pasar keuangan Indonesia yang menarik, inflasi rendah dan propek ekonomi Indonesia yang lebih baik.

"BI meyakini rupiah stabil kecenderungan menguat didukung yield menarik, inflasi rendah, dan prospek ekonomi RI," tegas Perry, dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026).


Inflasi, kata Perry, tetap terjaga di level 2,5% plus minus 1% pada 2025. Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi masih di bawah kapasitasnya dan suku bunga kebijakan moneter BI telah mampu menjangkar ekspektasi inflasi. Pada 2026, inflasi diyakini BI akan lebih rendah lagi dari tahun lalu, sebesar 2,92%.

"Inflasi 2026-2027 rendah 2,5+-1%," papar Perry.

Menurut Perry, BI telah melakukan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, yakni intervensi di NDF, DNDF dan pasar spot. Kemudian, BI juga memperkuat strategi moneter pro-market. Respons kebijakan ini dalam rangka menjaga volatilitas rupiah.

"Guna menjaga stabilitas BI meningkatkan intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi NDF baik offshore maupun onshore dan di pasar spot. Respons kebijakan ini jaga volatil rupiah," paparnya.

Dari catatan BI, rupiah pada 20 Januari 2026, tercatat di level Rp 16.945 per dolar AS. Ini melemah 1,53% point to point (ptp) dibandingkan Desember 2025.

Perry mengakui pelemahan rupiah memang dipengaruhi oleh outflow asing akibat ketidakpastian keuangan global.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Uang Kartal BI Naik 12,09%, Transaksi Digital Tetap Melaju