MARKET DATA

Bos Bank Asing Blak-Blakan Soal Dampak Gelembung AI

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
12 January 2026 21:10
HSBC. (REUTERS/Reinhard Krause/File Photo)
Foto: HSBC. (REUTERS/Reinhard Krause/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Demam akal imitasi atau artificial intelligence (AI) dikhawatirkan akan mengulangi pecahnya gelembung teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT) pada tahun 2000 lalu. Namun, bankir asing memandang bahwa demam AI berbeda dengan gelembung TMT.

Chief Investment Officer (CIO) DBS Bank, Hou Wey Fook mengatakan bahwa kekhawatiran akan munculnya pembiayaan sirkular AI banyak disamakan dengan gelembung TMT. Saat itu perusahaan telekomunikasi gencar memnjiam dan menghabiskan banyak uang untuk membangun jaringan serat optik yang luas yang pada akhirnya menyebabkan kelebihan kapasitas besar-besaran yang mengakibatkan pecahnya gelembung tersebut. Ia menyoroti bahwa saat ini uang tengah berputar antara perusahaan-perusahaan AI.

"Apa itu pembiayaan sirkular dalam AI? Ini adalah ketika modal berputar di antara perusahaan AI, penyedia cloud, dan investor. Misalnya, NVIDIA berinvestasi di perusahaan rintisan AI, yang menggunakan platform GPU CUDA-nya untuk tujuan pelatihan dan inferensi AI. Startup AI ini kemudian akan mengumpulkan dana dari investor untuk membeli lebih banyak chip NVIDIA, dan siklus positif ini akan terus berlanjut," terang Wey Fook saat media briefing DBS CIO Insights "The Long Game" secara virtual, Senin (12/1/2026).

Ia mengatakan pembiayaan sirkular AI ini tentunya memiliki risiko penumpukan AI berlebih. Namun, Wey Fook mneybut para CEO perusahaan teknologi besar setuju, pada tahap awal adopsi AI ini, yang disebut revolusi industri keempat, pembiayaan sirkular diperlukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan siklus produk.

"Sekarang, di antara perusahaan teknologi besar yang perlu mendanai pembangunan pusat data besar-besaran adalah perusahaan hyperscaler, seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon" ucapnya.

Tidak seperti era dot-com, perbedaan besar kali ini adalah bahwa belanja modal atau capital expenditure (capex) sebagian besar dibiayai oleh arus kas operasional perusahaan-perusahaan tersebut, dan bukan dari utang besar yang mereka tanggung. Wey Fook mencontohkan Apple dan NVIDIA unggul di sini, karena mereka memiliki kebutuhan capex yang jauh lebih sedikit karena sifat model bisnis mereka.

"Keduanya melakukan outsourcing manufaktur chip mereka. Keduanya tidak membutuhkan pusat data yang besar. Model NVIDIA terletak pada IP-nya, kekayaan intelektual dalam desain chip, yang menghasilkan pangsa margin kotor yang sangat besar sebesar 78% untuk setiap chip GPU yang mereka jual," jelas Wey Fook.

Sementara itu, model Apple terletak pada ekosistemnya yang terdiri dari sekitar 2,5 miliar perangkat aktif yang terikat dengan pendapatan margin tinggi yang berulang dari layanannya, seperti App Store, iCloud, AppleCare, ApplePay, TV, Music, dan banyak lagi. Oleh karena itu, untuk setiap iPhone yang dijual Apple, pangsa margin kotornya sangat besar, yaitu 59%.

Wey Fook melanjutkan, pecahnya gelembung dot-com sepenuhnya disebabkan oleh ekspektasi pertumbuhan pendapatan yang berlebihan, yang tidak terwujud.

Namun, berbeda dengan sekarang, saat itu ada banyak sekali perusahaan rintisan, seperti Pets.com yang terkenal, yang sahamnya sebenarnya melonjak setelah IPO, tetapi segera setelah itu jatuh ke nol karena tidak memiliki pendapatan.

"Jika kita melihat perusahaan-perusahaan teknologi besar, mereka telah dan diperkirakan akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan dua digit yang mengesankan dalam beberapa tahun mendatang dengan visibilitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa AI tidak berada dalam gelembung," tuturnya.

Di AS, Wey Fook menyebut pertumbuhan tambahan terbesar akan berasal dari pengeluaran paket kunci terkait AI. Tanpa itu, pertumbuhan pertumbuhan ekonomi total AS akan lesu karena mesin konsumsi dan perumahan diperkirakan akan lemah pada tahun 2026.

Meski demikian, Wey Fook menggarisbawahi pengeluaran capex yang besar dan berkelanjutan akan menjadi hambatan besar bagi margin keuntungan, dan itu dapat menyebabkan koreksi harga saham-saham teknologi.

"Tetapi kami melihat lintasan jangka panjang untuk pertumbuhan pendapatan dua digit tetap utuh. Jadi, tetaplah berinvestasi di perusahaan-perusahaan AI terbaik hingga tahun 2026," kata dia.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Goldman Sachs Ingatkan Risiko di Balik Euforia Investasi AI


Most Popular
Features