IHSG To The Moon Kok Rupiah Tetap Loyo? Ini Penjelasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan kurs rupiah terus menerus tak seirama. Saat kinerja IHSG terus menerus naik hingga kerap disebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa "to the moon", nilai tukar rupiah malah kian terperosok.
Jelang akhir pekan lalu misalnya, IHSG naik 0,13% ke level 8.936,75. Sementara itu, kurs rupiah pada akhir perdagangan Jumat (9/1/2026) justru terdepresiasi sebesar 0,06% dan ditutup di level Rp16.795/US$. Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren pelemahan rupiah menjadi enam hari perdagangan beruntun sejak awal 2026.
Chief Economist Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan, kondisi itu tak terlepas dari tekanan di pasar obligasi yang tak kunjung mereda, akibat maraknya investor asing yang melepas kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN).
Sedangkan di pasar saham masih mencatatkan aliran modal asing masuk alias inflow, di samping makin maraknya investor ritel domestik yang masuk ke pasar keuangan itu. Akibatnya, pasokan dolar AS di dalam negeri tak mampu memperkuat stabilitas kurs.
"Net sell obligasi kan, kan juga sudah terjadi sepanjang 2025. Dan yang membuat market bagus ya pemain domestik, ritel juga kan makin banyak untuk saham," ucap David saat ditemui di kantornya pada pekan lalu, dikutip Senin (12/1/2026).
Bila merujuk data transaksi yang dicatat Bank Indonesia pada 5-8 Januari 2026, alira modal asing memang masih terus masuk ke pasar saham, sedangkan SBN cenderung mengalami outflow.
Pada pekan pertama Januari 2026 itu, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp 1,78 triliun di pasar saham dan Rp 1,04 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sedangkan jual neto sebesar Rp1,38 triliun di pasar SBN.
Head of Banking Research and Analytics Economy BCA Victor George Petrus Matindas menambahkan, setidaknya ada tiga faktor di domestik yang memang telah mengganggu sentimen investor asing, hingga mengganggu stabilitas kurs.
Tiga faktor yang kini tengah mengganggu sentimen investor global terhadap Indonesia itu ialah tentang pelebaran defisit fiskal, tekanan inflasi, dan pelemahan surplus neraca perdagangan.
"Concerning terkait rupiah mainly selain dari soal fiskal beberapa pertanyaan investor ke kami terkait dengan trade surplus dan inflasi," kata Victor.
Demi mengantisipasi terus tertekannya laju nilai tukar rupiah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah menetapkan aturan terbaru devisa hasil ekspor (DHE), supaya para eksportir tak lagi sembarang memarkirkan dolar hasil ekspornya di luar negeri.
Peraturan terbaru DHE yang merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam itu ia pastikan akan memperkuat cadangan devisa Indonesia, sehingga kurs rupiah ke depannya bisa stabil, bahkan menguat seperti IHSG.
Dengan peraturan terbaru yang berlaku per 1 Januari 2026 itu, para eksportir, termasuk eksportir sawit, menurut Purbaya tak lagi bisa memanipulasi kewajibannya untuk menempatkan dolar hasil ekspornya di sistem perbankan dalam negeri, yakni 100% wajib ditempatkan di Bank Himbara dan 50% dari penempatan yang hanya diperkenankan untuk dikonversi ke rupiah.
"Kalau dia enggak taruh uangnya di luar, taruh di sini, kan cadangan devisanya kenceng tuh, rupiah akan stabilkan. Anda enggak nyalahin saya lagi rupiahnya lemah terus. Walaupun bursa saham naik tapi rupiah loyo, walaupun ekonomi bagus tapi rupiah loyo, kan enggak mau gitu terus kan anda?" tegas Purbaya.
(arj/haa)[Gambas:Video CNBC]