Terancam Kelebihan Pasokan, Harga Minyak Mentah Melemah Terbatas
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Selasa, (06/01/2025), seiring pasar mulai mencerna ulang risiko lonjakan pasokan global di tengah permintaan yang belum menunjukkan pemulihan kuat. Sentimen terbesar datang dari potensi kembalinya minyak Venezuela ke pasar setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap Amerika Serikat.
Melansir Refinitiv pukul 10.10 WIB, harga Brent (LCOc1) berada di US$61,48 per barel, turun dari US$61,76 pada penutupan Senin (5/1/2026). WTI (CLc1) juga melemah ke US$57,99 per barel, dari US$58,32 sehari sebelumnya. Pelemahan ini menandai kelanjutan koreksi setelah harga sempat mencoba stabil di awal tahun.
Secara mingguan sejak akhir Desember, arah pasar terlihat rapuh. Dari level US$62,38 per barel pada 23 Desember, Brent kini sudah turun hampir 1,5%, sementara WTI dari US$58,38 terkoreksi ke bawah US$58. Pola ini mencerminkan bahwa reli akhir tahun gagal bertahan ketika pasar kembali berhadapan dengan isu struktural: pasokan terlalu besar dibanding konsumsi global.
Pemicu terbaru datang dari geopolitik Amerika Latin. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pemerintahan Donald Trump membuka kembali spekulasi pencabutan sanksi dan embargo minyak AS terhadap Caracas. Jika itu terjadi, minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun terisolasi berpotensi kembali mengalir ke pasar dunia dalam volume besar.
Venezuela sendiri bukan pemain kecil. Negara ini merupakan anggota pendiri OPEC dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel. Produksinya memang merosot tajam akibat sanksi dan kurangnya investasi, dengan output tahun lalu hanya sekitar 1,1 juta barel per hari. Namun analis memperkirakan, jika stabilitas politik terjaga dan modal asing kembali masuk, produksi bisa melonjak hingga 500 ribu barel per hari dalam dua tahun ke depan.
Di pasar yang sudah kelebihan pasokan, tambahan minyak dari Venezuela akan menjadi beban baru.
Itulah yang kini tercermin di pergerakan harga setiap kenaikan langsung dibatasi oleh kekhawatiran suplai. Kenaikan singkat yang terjadi di sesi sebelumnya-ketika pasar bereaksi terhadap kabar penangkapan Maduro-cepat memudar ketika fokus kembali pada neraca pasokan global.
Survei Reuters pada Desember lalu bahkan sudah menunjukkan bahwa pelaku pasar memperkirakan harga minyak akan berada di bawah tekanan sepanjang 2026, karena pertumbuhan produksi global diprediksi melampaui pertumbuhan permintaan. Isu Venezuela hanya mempercepat proses itu.
Bagi OPEC+, situasi ini juga rumit. Kartel yang dipimpin Arab Saudi masih berusaha menjaga keseimbangan pasar dengan mempertahankan kuota produksi. Namun jika minyak Venezuela benar-benar kembali deras ke pasar, ruang OPEC+ untuk menahan harga akan makin sempit. Beberapa analis memperkirakan OPEC+ harus kembali memangkas produksi agar Brent tidak jatuh terlalu dalam dari kisaran US$55-60 per barel.
Untuk saat ini, pasar memilih bersikap defensif. Turunnya Brent ke US$61,48 dan WTI ke US$57,99 pagi ini menjadi sinyal bahwa investor lebih percaya pada skenario pasokan melimpah ketimbang pemulihan permintaan. Selama bayang-bayang Venezuela dan kelebihan suplai masih menghantui, setiap reli harga minyak berisiko cepat berubah menjadi koreksi.
CNBCÂ Indonesia
(emb/emb)[Gambas:Video CNBC]