
Ada Hartono dan Prajogo, Intip Jeroan Bisnis Surya Semesta (SSIA)

Jakarta, CNBC Indonesia — Saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) diborong oleh Prajogo Pangestu melalui PT Chandra Asri Pasific Tbk (TPIA). Aksi ini berbarengan dengan duo Hartono yang menambah kepemilikan di SSIA melalui kendaraan investasi Grup Djarum, PT Dwimuria Investama Andalan.
Sebagai informasi, transaksi yang dilakukan oleh Prajogo Pangestu tersebut dilakukan pada Selasa (15/7/2025) yang melibatkan 284,85 juta saham SSIA. Dengan demikian TPIA kini menggenggam 6,05% saham SSIA.
Tidak diketahui tujuan dan nilai transaksi tersebut. Akan tetapi jika mengacu pada harga penutupan SSIA pada tanggal transaksi tersebut, TPIA diperkirakan merogoh kantong senilai Rp 780,48 miliar.
Pada saat bersamaan, Grup Djarum belum berhenti menambah tebal kepemilikan di Surya Semesta. Dwimuria menyerok 2.104.600 saham, sehingga kepemilkannya naik dari 5,83% menjadi 5,89%.
Sementara itu, Henan Putihrai Asset Management melepas 10 juta saham SSIA. Alhasil saham Surya Semesta di kantong Henan Putihrai Asset tersisa 270,98 juta setara 5,76%.
Pada perdagangan kemarin, Rabu (16/7/2025), saham SSIA turun 8,03% ke level 2.520. Koreksi ini terjadi setelah tiga hari perdagangan sebelumnya saham SSIA tancap gas dengan kenaikan harian 11,01%, 24,93%, dan 17,6%.
Adapun SSIA sebelumnya dikenal sebagai PT Multi Investments Limited, didirikan pada 15 Juni 1971. Nama perusahaan kemudian diubah menjadi PT Surya Semesta Internusa (SSIA) pada tahun 1995. Bisnis utama SSIA adalah pengembangan kawasan industri & real estate, konstruksi, dan perhotelan.
Portofolio investasi SSIA sangat beragam, termasuk Suryacipta City of Industry, Subang Smartpolitan, Edenhaus Simatupang, Graha Surya Internusa (akan dibangun kembali sebagai SSI Tower), Hotel Gran Melia Jakarta, Melia Bali Hotel, Umana Bali, LXR Hotels & Resorts, dan Hotel BATIQA.
SSIA mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan menjadi perusahaan publik pada tanggal 27 Maret 1997.
Masih Rugi
Mengutip laporan keuangannya, kinerja keuangan SSIA hingga kuartal I tahun 2025 berangsur membaik. Perseroan membukukan rugi bersih konsolidasian sebesar Rp21,7 miliar dibandingkan rugi bersih sebesar Rp14,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Padahal, pendapatan SSIA hingga kuartal I tahun ini turun dari Rp 1,09 triliun menjadi Rp 1,06 triliun. Kemudian, beban perseroan juga naik menjadi Rp 868,7 miliar dari sebelumnya Rp 784,6 miliar. Dengan demikian, laba kotor SSIA turun 35% menjadi Rp 199,4 miliar dari sebelumnya Rp 306,9 miliar.
Dari pos beban, beban penjualan turun menjadi Rp 16,4 miliar, beban umum dan administrasi naik jadi R 176,7 miliar, beban lainnya turun jadi Ro 10,8 miliar. Namun penghasilan lainnya naik Rp 60,5 miliar dari sebelumnya Rp 16,6 miliar. Sehingga laba usaha naik jadi Rp 56,07 miliar dari sebelumnya Rp 91,8 miliar.
Selanjutnya, dikurangi laba sebelum pajak penghasilan yang turun menjadi Rp 6,1 miliar dari sebelumnya Rp 9,8 miliar dan manfaat pajak penghasilan yang sebesar Rp 3,19 miliar dari sebelumnya membebani Rp 8,37 miliar, maka laba periode berjalan hingga kuartal I menjadi Rp 9,37 miliar dari sebelumnya yang hanya Rp 1,51 miliar.
Adapun total aset SSIA hingga kuartal I tahun ini mencapai Rp 10,74 triliun dibandingkan akhir tahun 2024 yang sebesar Rp 10,36 triliun.
Posisi likuiditas SSIA tetap kuat dengan kas sebesar Rp2.196,0 miliar, serta pengelolaan keuangan yang hati-hati dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 12,6% yang terus menopang stabilitas dan potensi pertumbuhan Perseroan.
Bisnis SSIA
SSIA tercatat memiliki pendapatan dari segmen properti, mencakup pendapatan dari kawasan industri, biaya pemeliharaan, sewa komersial, dan properti residensial, membukukan pendapatan sebesar Rp163,8 miliar pada kuartal I tahun 2025 atau naik 2,6% dari Rp159,7 miliar.
PT Suryacipta Swadaya (SCS) yang menjadi unit bisnis utama Perseroan, melaporkan pendapatan sebesar Rp162,3 miliar pada kuartal I, meningkat 10,5% dari Rp146,8 miliar. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kenaikan 16,6% pada pembukuan penjualan lahan sehingga menjadi Rp78,9 miliar di kuartal I dari sebelumnya Rp67,6 miliar
Pada kuartal I, SCS mencatat penjualan penjualan lahan inventaris seluas 4,0 hektare di Suryacipta Karawang, senilai Rp88,0 miliar, naik 31,4% dibandingkan tahun lalu yang menjual 3,0 hektare senilai Rp57,1 miliar. SCS juga memiliki backlog penjualan lahan sebesar Rp325,4 miliar, setara dengan 24,2 hektare lahan.
Selain itu, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), yang merupakan anak usaha konstruksi SSIA, melaporkan pendapatan konsolidasian sebesar Rp889,5 miliar pada kuartal I tahun ini, meningkat 24,4% secara tahunan dari Rp715,0 miliar. Laba bersihnya pun naik 46,1% menjadi Rp42,0 miliar dari Rp28,8 miliar.
NRCA memperoleh kontrak baru senilai Rp687,8 miliar pada kuartal I ini, turun 49,1% dari Rp1.351,1 miliar. Proyek utama yang diperoleh pada kuartal I meliputi Pabrik Baru AHM di Deltamas Cikarang Bekasi, pekerjaan infrastruktur di Subang Smartpolitan, pekerjaan struktur untuk Grand Lucky Pekanbaru, Gedung Parkir & Campus Plaza E di Gunadarma Depok, serta Holiday Inn Express di Bandung.
SSIA juga tercatat memiliki lini bisnis perhotelan yang membukukan pendapatan sebesar Rp99,6 miliar pada kuartal I tahun ini, turun 57,3% dari Rp233,2 miliar.
Gran Melia Jakarta (GMJ) mencatat tingkat keterisian sebesar 37,1% pada kuartal I, turun dari sebelumnya 62,6%. Namun, rata-rata tarif kamar (ARR) naik menjadi Rp1,33 juga dari Rp 1,07 juta pada tahun lalu.
Umana Bali, LXR Hotels & Resorts (LXR), melaporkan tingkat keterisian 40,8% pada kuartal I ini, naik dari 29,0%. ARR pada pada kuartal I sebesar Rp8,99 juta, sedikit turun dari Rp9,19 juta pada 2024.
BATIQA Hotels mencapai tingkat keterisian 63,5% pada kuartal I dengan ARR Rp383.00, dibandingkan tingkat keterisian 64,3%
SSIA juga memiliki platform Travelio.com, yang merupakan perusahaan penyewaan properti daring inovatif yang menawarkan opsi sewa jangka pendek, menengah, dan panjang untuk apartemen serta rumah di 14 kota utama di Indonesia.
Didukung oleh perusahaan investasi seperti Temasek Holding's Pavillion Capital di Singapura, Mirae Asset, Samsung Ventures, dan Gobi Partners. Pada 1Q25, Travelio mencatat pertumbuhan Gross Merchandise
Value (GMV) sekitar 14% secara tahunan dan menargetkan pertumbuhan sekitar 35% hingga akhir 2025. Hingga akhir Maret 2025, Travelio sebagai platform manajemen hunian privat terbesar di Indonesia, secara eksklusif mengelola 15.472 unit apartemen dan diperkirakan akan mencapai lebih dari 17.000 unit pada akhir 2025.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tajir! Prajogo Pangestu Borong Saham Barito Pacific (BRPT) Rp 8,69 M
