IPO Watch

Saham Logistik Alfamidi ini Mahal Sekali, Apakah Layak Beli?

Market - Susi Setiawati, CNBC Indonesia
26 January 2023 09:20
Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022). IHSG ditutup menguat 0,33 persen atau 23,53 poin ke 7.054,12 pada akhir perdagangan, sebanyak 249 saham menguat, 255 saham melemah, dan 199 saham stagnan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022). IHSG ditutup menguat 0,33 persen atau 23,53 poin ke 7.054,12 pada akhir perdagangan, sebanyak 249 saham menguat, 255 saham melemah, dan 199 saham stagnan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor transportasi dan logistik akan kedatangan satu emiten baru. Namanya, PT Jasa Berdikari Logistics Tbk dengan kode LAJU. Rencananya melantai di Bursa Efek Indonesia pada hari ini (27/1/2023). Secara fundamental, harga saham yang ditawarkan terbilang mahal, baik dari sisi rasio harga terhadap laba (Price Earning Ratio/PER) dan rasio terhadap nilai buku (Price Book Value/PBV).

Calon emiten ini menawarkan harga Rp 100 per lembar yang telah dialokasikan Rabu (25/1/2023). Dalam perhitungan PER LAJU, dengan harga listing Rp 100 per unit dan Earning Per Share/EPS 3,24, berarti PER nya sebesar 31 kali. Ini terbilang mahal, karena rata-rata PER sektor transportasi dan logistik terbilang murah sekitar 8 kali.

Demikian juga dari sisi nilai buku (harga wajar secara nilai buku/BV), dimana LAJU berada di BV 16, jauh di bawah harga IPO sehingga dapat diartikan saham ini ditawarkan pada harga super premium. Hal yang sama juga tampak pada dari segi PBV yang sebesar 6 kali. Angka ini termasuk harga yang cukup mahal karena rata-rata PBV sektor transportasi dan logistik masih di bawah 1,2.

Namun, perlu dipahami, semua indikator rasio tersebut tampaknya perlu diimbangi dengan prospek bisnis dari emiten ini. LAJU termasuk perusahaan yang masih bisa bertumbuh, sehingga rasio-rasio tersebut bukanlah satu-satunya alasan untuk menilai kewajaran harga.

Sejak 2019 hingga laporan per 30 /11/2022 Laba Bersih LAJU terus bertumbuh. Gross Profit Margin (GPM) di 30/11/2022 sebesar 24% angka ini bisa dibilang kurang bagus, karena standar GPM rata-rata industri berada di 30%. Semakin besar GPM nya semakin bagus, hal itu menandakan perusahaan tersebut mampu untuk menjalankan produksinya secara efisien karena Harga Pokok Penjualan relatif lebih rendah. Semakin tinggi marjin laba kotornya, maka semakin baik keadaan operasi perusahaannya.

Dari segi hutang terhadap modal, DER (Debt to Equity Ratio), di bawah satu, LAJU masih 0,93 berarti kemampuan modal untuk membayar hutangnya masih bagus. Selain itu, LAJU juga memberi statement bahwa akan membagikan dividen tunai sebanyak-banyaknya sebesar 30% atas laba bersih tahun berjalan perseroan.

Besarnya pembagian dividen akan bergantung pada hasil kegiatan usaha dan arus kas Perseroan serta prospek usaha, kebutuhan modal kerja, belanja modal dan rencana investasi Perseroan di masa yang akan datang dan dengan memperhatikan pembatasan peraturan dan kewajiban lainnya. Apabila keputusan telah dibuat untuk membayar dividen.

Selain itu, ada sisi negatif dari LAJU yaitu dimana arus kas per kuartal II 2022 tercatat minus. Hal tersebut dikarenakan kas pada periode sebelumnya masih minus dan belum bisa di tutup dengan baik. Padahal Aktivitas Operasi Perseroan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2022 adalah sebesar Rp9.313.820.192 dimana terdapat kenaikan sebesar Rp2.821.175.174 atau sebesar 43,45% bila dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas operasi untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2021 yaitu sebesar Rp6.492.645.018.

Kenaikan penerimaan kas dari aktivitas operasi terutama disebabkan karena meningkatnya penerimaan kas dari pelanggan serta menurunnya pembayaran kepada karyawan Perseroan.

Sebagai acuan yang lain, pembanding dari kompetitor untuk LAJU adalah PT. Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) yang memiliki bisnis serupa. Jika kita dibandingkan secara fundamental antara LAJU dengan ASSA sedikit jauh berbeda. Bandingkan dari PER nya, ASSA di PER 17 kali sedangkan LAJU PER 31 kali, namun jika dilihat secara PBV memang masih lebih murah ASSA di range 1,83 kali sedangkan LAJU di range 6 kali.

Untuk pembanding lainnya bisa dilihat dari aset. Secara aset ASSA memang lebih unggul dengan aset Rp7,4 triliun dimana jauh berbeda dengan LAJU yang hanya memiliki aset Rp105 milyar per 30/06/2022. ASSA mengalami kenaikan kinerja pada periode 2022 berdasarkan laporan keuangan di BEI, begitu juga LAJU mengalami kenaikan kinerja pada periode 2022.

LAJU akan menyebar sahamnya ke masyarakat sebesar 7 juta lot atau setara dengan 700 juta lembar dengan harga penawaran di Rp 100. Dana segar IPO akan digunakan sebagai berikut:

RENCANA PENGGUNAAN DANA

Sekitar 23,71% digunakan untuk belanja modalPerseroan yang tergolong dalam Capital Expenditure (CAPEX) dengan rincian:

a) Sekitar 57,82% akan digunakan untuk pembelian aset Perseroan berupa:

* Sekitar 71,30% atau sekitar Rp9.772.615.338, akan digunakan sebagai pelunasan sebidang tanah seluas 1.646m2 dan bangunan dengan luas ± 224 m2.

* Sekitar 28,70% atau sekitar Rp3.933.556.068, akan digunakan sebagai pelunasan sebidang tanah seluas 75m2 beserta bangunan ruko tiga lantai yang berada di Ruko Prominence 38F Nomor 39 dengan luas ± 210 m2.

b) Sekitar 42,18% akan digunakan untuk pembelian 25 (dua puluh lima) unit armada (truk) secara tunai dari pihak ketiga yaitu PT Dayaguna Motor Indonesia dengan estimasi biaya sebesar Rp411.000.000 per unit.

Sisanya, sekitar 76,29% akan digunakan untuk keperluan modal kerja seperti:

a) Sekitar 97,93% akan digunakan untuk biaya operasional, penambahan Sumber Daya Manusia (SDM), perbaikan dan pemeliharaan, serta pemasaran.

b) Sisanya, sekitar 2,07% akan digunakan untuk penambahan teknologi.

LAJU juga menerbitkan waran 140 juta lembar Waran Seri 1 yang diberikan secara cumacuma kepada pemegang saham baru, dengan rasio 5:1 yang berarti setiap pembelian 5 saham LAJU gratis 1 waran.

Gambaran Bisnis LAJU

PT Jasa Berdikari Logistics Tbk (LAJU) adalah perusahaan layanan logistik terintegrasi yang menyediakan jasa pengelolaan logistik, baik untuk pengiriman (distribusi barang) maupun manajemen pergudangan. Perseroan didirikan pada tahun 2007 dan telah dipercaya oleh berbagai perusahaan ternama di Indonesia.

Sejak tahun 2010 hingga saat ini, Perseroan ditunjuk sebagai mitra logistik bagi PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Hal ini membuat Perseroan sebagai perusahaan pihak ketiga (3PL) pertama yang menyediakan jasa logistik bagi peritel tingkat nasional tersebut.

Saat ini, selain menjadi penyedia jasa logistik skala nasional bagi MIDI, Perseroan juga mendukung aktivitas perusahaan-perusahaan nasional lain di berbagai bidang seperti PT Mulia Keramik (bidang industri keramik) dan PT Tirta Sukses Perkasa (produsen air minum "Club"), dan baru baru ini, Perseroan merambah jasa distribusi untuk Industri E-commerce dengan melayani salah satu pemain penting di industri ini yaitu PT Sooplai Indonesia (SIRCLO) yang juga membawahi e-commerce "Warung Pintar".

Yang menarik dari LAJU, ia memiliki beberapa client client besar seperti Alfamidi, PT Tirta Sukses Perkasa (Air Mineral Club), Mulia Keramik, PT Lingkar Niaga Solusindo (SIRCLO), Warung Pintar. Menurut data SIRCLO, sebanyak 17,5% masyarakat telah berpindah dari berbelanja offline menjadi belanja online. Peningkatan pelanggan yang berbelanja online juga cukup besar. Dari semula yang hanya 11%, meningkat menjadi 25% pada tahun 2021.

Beberapa klien dari LAJU merupakan sektor consumer, dimana menurut survei konsumen Bank Indonesia pada Desember 2022 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2022 sebesar 119,9, lebih tinggi dibandingkan 119,1 pada November 2022.

Menguatnya keyakinan konsumen pada Desember 2022 didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat meningkat pada seluruh komponen pembentuknya, terutama Indeks Penghasilan Saat Ini. Sementara, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap terjaga, dengan peningkatan terjadi pada Indeks Ekspektasi Penghasilan.

Selain itu, kinerja penjualan eceran diprakirakan tumbuh positif pada Desember 2022. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2022 sebesar 216,4, atau tumbuh positif 0,04% (yoy). Kinerja penjualan eceran yang tumbuh positif tersebut didorong oleh pertumbuhan Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi yang tercatat meningkat dari kontraksi pada bulan sebelumnya.

Secara bulanan, penjualan eceran diprakirakan tumbuh sebesar 6,3% (mtm), meningkat dari 0,4% (mtm) pada bulan sebelumnya. Peningkatan terjadi pada mayoritas kelompok, terutama Subkelompok Sandang, Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi yang ditopang oleh masih tingginya penjualan TV digital, serta Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang didorong oleh perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal, periode libur dan akhir tahun, serta strategi potongan harga yang mendukung permintaan domestik.

Pada November 2022, pertumbuhan penjualan eceran secara tahunan tetap tumbuh positif. IPR November 2022 tercatat tumbuh sebesar 1,3% (yoy), meski lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 3,7% (yoy).

Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi tercatat meningkat, sementara Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi serta Perlengkapan Rumah Tangga lainnya membaik meski masih dalam fase kontraksi. Secara bulanan, kinerja penjualan eceran juga tercatat tumbuh positif sebesar 0,4% (mtm). Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pada Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya serta Suku Cadang dan Aksesori yang mengalami perbaikan setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Dari sisi harga, responden memprakirakan tekanan inflasi pada Februari dan Mei 2023 (3 dan 6 bulan yang akan datang) akan menurun. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari dan Mei 2023 tercatat masing-masing sebesar 134,6 dan 140,2 turun dari 138,0 dan 140,8 (Januari dan April 2023). Responden menginformasikan penurunan harga diprakirakan terjadi karena stok barang yang mencukupi.

Dari sektor transportasi dan logistik, sektor ini juga diprediksi hingga akhir 2022 akan mencapai Rp 957,9 triliun setelah pada tahun sebelumnya sebesar Rp 719,6 triliun. Prediksi ini berdasarkan analisis SCI atas data Badan Pusat Statistik (BPS) sampai triwulan III-2022. Data BPS menunjukkan sektor itu tumbuh tertinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya pada triwulan I-III tahun 2022, berturut-turut sebesar 15,79 persen, 21,27 persen, dan 25,81 persen.

Supply Chain Indonesia (SCI) memprediksi kontribusi lapangan usaha atau sektor transportasi dan pergudangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menembus angka Rp 1.090,2 triliun pada 2023.

Dari optimisme data di atas, menjadi angin segar bagi sektor transportasi dan logistik, bahwa bisnis ini akan mengalami peningkatan pendapatan pada periode kuartal I 2023 dimana juga di dukung tingkat konsumsi yang tinggi.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IHSG Juara Saat Bursa Lain Merana


(saw/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading