Terungkap! Di Balik Ingin Jokowi Tahan Dolar Hasil Ekspor

Market - Hadijah Alaydrus, CNBC Indonesia
07 December 2022 07:15
Ilustrasi dolar Amerika Serikat (USD). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (USD). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya menahan devisa hasil ekspor (DHE) telah menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah dan otoritas moneter di Tanah Air. Menghadapi kemungkinan gejolak keuangan yang lebih besar tahun depan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun kembali mengangkat masalah ini.

Jokowi meminta Bank Indonesia (BI) segera membuat kebijakan yang dapat menahan dolar hasil ekspor di dalam negeri. Dengan demikian, artinya, setiap devisa hasil ekspor (DHE) dalam bentuk dolar harus ditahan di dalam negeri untuk beberapa waktu.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai Sidang Kabinet Paripurna, Kantor Presiden, Selasa (6/12/2022).

"Tentunya dari BI bisa buat sebuah mekanisme sehingga ada periode tertentu cadangan devisa yang bisa disimpan dan diamankan di dalam negeri," kata Airlangga, dikutip Rabu (7/12/2022).

Dengan mekanisme ini, pemerintah berharap bisa melihat hasil jelas dari devisa yang dihasilkan setelah neraca perdagangan domestik mencetak surplus selama 30 bulan berturut-turut.

Pemerintah dan BI telah sepakat menegakkan kembali memberlakukan sanksi untuk eksportir yang tidak menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri pada September lalu.

Sebelumnya, aturan wajib parkir devisa di dalam negeri ini direlaksasi oleh BI sepanjang pandemi. Pertengahan Juli lalu, BI bahkan memperpanjang batas waktu pengajuan pembebasan Sanksi Penangguhan Ekspor (SPE) hingga akhir Desember 2022. Namun, hal tersebut dibatalkan dan BI mencabut relaksasi tersebut.

Sayangnya, ketentuan ini tidak sepenuhnya dengan tegas membuat eksportir menahan dolarnya di Tanah Air untuk periode tertentu.

Sementara itu, perebutan dolar di dalam negeri cukup ketat. Akhir November lalu, ketika rupiah kembali terputuk, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Edi Susianto mengungkapkan bahwa pada akhir tahun ada peningkatan permintaan akan dolar AS.

"Ada siklus peningkatan genuine demand valas, termasuk dari salah satu perusahaan BUMN besar," paparnya kepada CNBC Indonesia.

Di sisi lain, cadangan devisa terus tergerus seiring dengan upaya bank sentral menjaga stabilitas rupiah. BI sendiri bahkan telah menghabiskan cadangan devisa hingga US$ 9,8 miliar atau Rp 153,86 triliun (asumsi kurs Rp 15.700/US$) untuk memperkuat rupiah melawan 'strong dollar'.

Padahal, cadangan devisa BI sempat mencapai US$ 141,1 miliar per Februari 2022, sebelum akhirnya turun hingga US$ 130,2 miliar per Oktober 2022.

Tren penurunan cadangan devisa ini dipengaruhi oleh tren penguatan dolar AS yang menekan rupiah, serta kaburnya modal asing dari dalam negeri karena fenomena 'cash is the king'.

"Kami intervensi dalam jumlah yang besar. Cadangan devisa kami turun dari US$ 139,9 miliar menjadi sekitar US$ 130,1 miliar," papar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, dikutip Selasa (7/12/2022).

Perry menegaskan pihaknya akan menjaga cadangan devisa untuk tidak turun lebih lanjut. BI mengaku putar otak agar devisa hasil ekspor bisa tetap tinggal lebih lama di dalam negeri.

Menurut Perry, BI bahkan terus bernegosiasi dengan perbankan dalam rangka mencari cara agar eksportir mau menyimpan dolarnya di Tanah Air.

Hingga 18 September 2022, rupiah memang melemah 8,6%. Tetapi jika dibandingkan dengan penguatan dolar ataupun pelemahan negara lain, hal ini relatif baik.

"Kami mati-matian untuk menstabilisasi rupiah supaya imported inflation tidak terlalu tinggi, stabilitas moneter terjaga, kondisi korporasi juga baik, sehingga secara keseluruhan juga baik," tegasnya.

Adapun dengan melakukan kebijakan menahan devisa, maka hal ini dapat mambah posisi cadangan devisa. Cadangan devisa ini bisa dipakai untuk keperluan impor, pembayaran utang, sekaligus stabilisasi nilai tukar.

Di tengah kondisi ketidakpastian yang tinggi, memupuk cadangan devisa menjadi hal yang penting. Selain itu, eksportir pemilik dolar diharapkan untuk membawa pulang dolarnya dan menukarkannya dengan rupiah, agar menghindari gejolak permintaan dolar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar Makin Perkasa, Rupiah Terkapar ke Atas Rp 15.000/USD


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading