Setelah Reflasi, Ada Kengerian Lain Bernama Higher for Longer

Market - trp, CNBC Indonesia
26 November 2022 09:40
Perry Warjiyo, Bank Indonensia. (Tangkapan layar Youtube Komisi XI DPR RI Channel) Foto: Perry Warjiyo, Bank Indonensia. (Tangkapan layar Youtube Komisi XI DPR RI Channel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar AS yang tertekan nyatanya tidak serta merta membuat nilai tukar rupiah mengalami penguatan. Contohnya, di minggu ini saja, rupiah hanya mampu menguat tipis 0,1% terhadap greenback dan dihargai Rp 15.670/US$ pada perdagangan kemarin, Jumat (26/11/2022).

Padahal di saat yang sama, indeks dolar AS justru sedang melemah hampir 1%. Pelemahan indeks dolar AS menyusul rilis risalah rapat Komite Pengambil Kebijakan Bank Sentral AS (FOMC) yang menyiratkan peningkatan suku bunga acuan yang lebih rendah ke depan.

Namun, sekarang yang lebih menjadi fokus bagi pelaku pasar bukan soal seberapa besar Kenaikan suku bunga acuan, melainkan seberapa tinggi suku bunga acuan nantinya dan berapa lama suku bunga tinggi tersebut dipertahankan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bahkan menyampaikan bahwa ada peluang suku bunga tinggi akan dipertahankan cukup lama. Fenomena ini disebut sebagai kebijakan higher for longer.

Sebagai otoritas moneter domestik, BI telah menempuh berbagai cara untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah seperti intervensi di pasar hingga menggerus cadangan devisa miliaran dolar AS, menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan hingga meningkatkan suku bunga acuan.

Asal tahu saja, BI telah menaikkan suku bunga 7 day reverse repo rata sebesar 170 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan November 2022, BI kembali meningkatkan suku bunga acuan sebesar 50 bps.

Kenyataannya, sentimen serta aliran modal asing yang keluar dengan nilai modal jumbo dari RI jauh lebih dominan menggerakkan nilai tukar rupiah.

Secara teoritis, fundamental rupiah seharusnya kuat dengan surplus neraca dagang selama dua tahun beruntun. Begitu juga dengan adany surplus transaksi berjalan.

Namun, tekanan outflows di pasar keuangan masih menghantui rupiah. BI mencatat sejak awal tahun hingga 2022 asing jual neto SBN sebesar Rp 166 triliun dan beli neto saham Rp 75 triliun.


Artinya secara neto, asing keluar dari pasar keuangan RI sebesar Rp 91 triliun. Dengan nilai yang fantastis tersebut wajar saja jika nilai tukar rupiah masih dibayangi oleh pelemahan sepanjang tahun ini.

Lebih lanjut Gubernur BI Perry Warjiyo juga menyoroti fenomena strong dollar AS yang terjadi tahun ini akibat pengetatan kebijakan moneter yang agresif dari the Fed.
Rupiah yang melemah nyatanya tidak sendiri. Mayoritas mata uang dunia juga mengalami hal yang sama. Memang dolar AS masih menjadi primadona saat ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BI Beraksi! Bakal Ikuti The Fed Agresif Kerek Suku Bunga?


(RCI/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading