Bursa Asia Ditutup Cerah, Kecuali Straits Times Singapura

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
23 November 2022 16:46
A man is seen against an electronic board showing stock information at a brokerage house in Hangzhou, Zhejiang province, China March 23, 2018. REUTERS/Stringer ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT. Foto: REUTERS/Stringer

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup di zona hijau pada perdagangan Rabu (23/11/2022), di tengah cerahnya bursa saham global.

Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 0,57% ke posisi 17.523,81, Shanghai Composite China bertambah 0,26% ke 3.096,91, ASX 200 Australia melesat 0,7% ke 7.231,8, KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,53% ke 7.231,8, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir positif 0,33% menjadi 7.054,12.

Namun untuk indeks Straits Times Singapura pada hari ini ditutup turun 0,11% menjadi 3.255,99.

Sementara untuk indeks Nikkei 225 Jepang pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur memperingati Hari Pekerja.

Dari Singapura, inflasinya mulai melandai dan meninggalkan rekor tertingginya dalam 14 tahun terakhir.

Inflasi Singapura pada periode Oktober 2022 dilaporkan turun menjadi 6,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari sebelumnya pada September lalu sebesar 7,5% (yoy).

Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh pemerintah setempat, inflasi Oktober itu juga lebih rendah dari proyeksi para ekonomi sebesar 7,1% (yoy).

Biaya transportasi tercatat melandari dari 6% menjadi 3,2%, pun perumahan yang turun dari 6% menjadi 5,9% serta pendidikan yang melandai dari 2,1% menjadi 2%.

Adapun, biaya makanan masih mencatatkan kenaikan sebesar 7,1%, tertinggi sejak Oktober 2008.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), Singapura mencatatkan deflasi 0,4%, berbalik dari inflasi sebesar 0,4% pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, inflasi inti Singapura, yang tidak termasuk harga bergejolak juga turun dari 5,3% (yoy) pada bulan lalu menjadi 5,1% (yoy) pada Oktober 2022. Inflasi tersebut berada di bawah ekspektasi sebesar 5,3% (yoy).

Meskipun melandai, tetapi inflasi inti diproyeksikan masih akan tetap tinggi dalam beberapa kuartal berikutnya.

"Inflasi Inti diproyeksikan akan tetap tinggi dalam beberapa kuartal berikutnya sebelum melambat lebih nyata di semester II-2023 karena pengetatan di pasar tenaga kerja domestik mereda dan inflasi global moderat," kata Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI), dikutip dari Channel News Asia.

Untuk 2022 secara keseluruhan, inflasi diperkirakan rata-rata sekitar 6% dan inflasi inti sekitar 4%.

"Harga komoditas energi dan pangan telah mencapai puncaknya di awal tahun, tetapi tetap tinggi mengingat kendala pasokan yang sedang berlangsung."

Bursa Asia-Pasifik pada hari ini cenderung mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin, yang ditutup cerah.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,18%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq Composite secara bersamaan berakhir melonjak 1,36%.

Menguatnya Wall Street seakan mengabaikan kondisi China yang masih dalam kondisi darurat Covid-19, di mana China kembali menghadapi kasus kematian untuk pertama kalinya setelah lebih dari setahun terakhir. Sehingga, mendorong para pejabat untuk meningkatkan kembali protokol untuk mengekang penyebaran Covid-19.

Seminggu yang lalu, China mulai melonggarkan beberapa tindakan Covid-19 yang ketat, menuju kebijakan yang lebih longgar.

Wall Street juga terbantu oleh melandainya kembali imbal hasil (yield) Treasury, karena perhatian investor beralih ke tahun 2023. Investor juga mempertimbangkan komentar dari para pemimpin bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Pada Senin awal pekan ini, Presiden The Fed Cleveland, Loretta Mester telah mengatakan bahwa data inflasi baru-baru ini menjanjikan dan dia akan mendukung pengurangan kenaikan suku bunga ke depan. Hal ini menandakan bahwa The Fed segera mencapai tingkat terminalnya, antara 4% dan 5%.

Di lain sisi, cerahnya Wall Street juga disebabkan karena pasar cenderung konservatif jelang libur Thanksgiving pada Kamis dan Jumat waktu AS.

Sebagai informasi, pasar saham AS akan tutup pada Kamis, karena adanya libur Thanksgiving, sedangkan pada Jumat pekan ini, Wall Street hanya akan dibuka setengah hari saja.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Terbang, Investor Party 'Till Drop


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading