Investor Asing 'Nyuntik' Rp 8,8 T, Rupiah Ngamuk Pekan Ini?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 November 2022 07:50
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah sepanjang pekan lalu melemah 1,26% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 15.685/US$. Rupiah juga melemah dalam 5 hari beruntun.

Di pekan ini, ada peluang rupiah bisa bangkit melihat investor asing yang mulai melirik lagi pasar obligasi Indonesia.

Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mengalami penguatan signifikan, yield-nya turun sebesar 15,7 basis poin menjadi 7,045% pada pekan lalu.

Yield SBN sudah turun dalam 3 pekan beruntun, hal ini bisa menjadi kabar baik. Artinya SBN mulai menarik lagi bagi investor, khususnya asing. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, sepanjang bulan ini hingga 15 November, investor asing melakukan pembelian SBN di pasar sekunder senilai Rp 8,8 triliun.

Hal itu tentunya menjadi kabar baik, sebab sejak awal tahun ini terjadi aksi jual yang sangat masif. Jika capital inflow di pasar SBN terus berlanjut di pekan depan, rupiah punya peluang untuk menguat.

Sementara itu dari eksternal, pelaku pasar pada pekan depan akan menanti komentar-komentar dari pejabat elit The Fed.

Tingkat pengangguran di AS sudah mengalami kenaikan, dan inflasi menurun. Beberapa pejabat The Fed sudah mengungkapkan kemungkinan laju kenaikan suku bunga akan dikendurkan.

Semakin banyak pejabat The Fed yang mengungkapkan hal tersebut, tentunya akan berdampak positif. Yield Treasury AS berpotensi menurun, begitu juga dengan dolar AS. Capital inflow di pasar SBN berpotensi berlanjut, dan rupiah juga punya peluang menguat.

Secara teknikal, area Rp 15.450/US$ terbukti menjadi support kuat yang menahan penguatan rupiah yang disimbolkan USD/IDR.

Ketika menguat Jumat (11/11/2022) lalu, rupiah hanya mampu menguji saja, dan gagal melewatinya. Setelahnya rupiah berbalik merosot 5 hari beruntun pada pekan lalu.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Level tersebut merupakan merupakan Fibonacci Retracement 38,2% dan menjadi 'gerbang keterpurukan' bagi rupiah, selama tertahan di atasnya.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Rupiah sebelumnya terus tertekan sejak menembus ke atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA50).

Indikator Stochastic pada grafik harian berbalik naik menuju wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Resisten terdekat berada di kisaran Rp 15.700/US$, jika ditembus rupiah berisiko melemah ke Rp 15.750/US$. Penembusan ke atas level tersebut akan membawa rupiah ke Rp 15.800/US$ di pekan ini.

Di sisi lain, support berada di kisaran Rp 15.630/US$ - Rp 15.600/US$. Jika ditembus konsisten, rupiah berpeluang menguat ke Rp 15.520/US$ pekan ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Keok Lagi! Amerika Tak Jadi Resesi Tengah Tahun Ini?


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading