Cerah Atau Suram? Begini Ramalan Terbaru Masa Depan Rupiah

Market - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
03 November 2022 09:25
Ilustrasi Dollar Rupiah Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) masih tak terbantahkan di depan mata uang negara berkembang, tak terkecuali nilai tukar rupiah. Greenback saat ini masih bertengger di level 15.600/US$

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Edi Susianto menjelaskan, untuk melihat daya tahan rupiah bisa dilihat dari dua hal. Pertama dilihat bagaimana cadangan devisa Indonesia terkuras untuk melakukan intervensi, serta implikasinya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Edi menjelaskan, pengurangan cadangan devisa tanah air masih sedikit berkurang dibandingkan dengan negara peers di Asia Tenggara.

"Di Bulan September, penurunan cadangan devisa dilihat dari data, kita hanya menurun 1,07%. Sementara negara peers seperti Malaysia menurun 3,46%, Thailand 7,24%, Filipina 4,04%. Kita relatively penurunan cadangan devisa kita relatif terbatas," jelas Edi kepada CNBC Indonesia

BI melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2022 mencapai US$ 130,8 miliar. Realisasi ini anjlok US$ 1,4 miliar dibandingkan posisi Agustus 2022 yang sebesar US$ 132,2 miliar.

Adapun persentase pelemahan pergerakan rupiah pada September dibandingkan negara tetangga lainnya, Indonesia masih relatif terbatas.

"Rupiah melemah hanya 2,53% di September, Malaysia Ringgit sekitar 3,5%, Filipina Peso 4,35%, Thailand Baht 3,36%. Bahkan Korea Won 6,5%," jelas Edi

Di tengah situasi saat ini, Indonesia masih mendapat keberkahan dari hasil neraca perdagangan yang tercatat surplus.

Seperti diketahui, neraca perdagangan Indonesia pada September 2022 mencatatkan surplus sebesar US$ 4,99 miliar. Surplus neraca perdagangan ini sudah berlangsung 29 kali berturut-turut sejak Mei 2020.

Edi bilang, surplus neraca perdagangan yang masih kuat tersebut menolong atau dapat menahan rupiah saat ini. Hal kedua yang juga menggambarkan daya tahan rupiah terlihat dari implikasinya terhadap pertumbuhan ekonomi.

"So far, bahwa PDB (Produk Domestik Bruto) di Kuartal II-2022 masih kuat 5,44%, eksternal balance masih positif masih sangat kuat. Juga PMI yang masih ekspansif," jelas Edi.

Peningkatan produksi dan ekspansi permintaan domestik baru mendorong naiknya Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia di bulan September 2022. PMI Manufaktur di bulan tersebut tercatat sebesar 53,7, atau naik dari 51,7 di bulan Agustus lalu.

"Menurut saya, ini adalah salah satu indikator yang bisa kita lihat untuk daya tahan rupiah," kata Edi.

Lantas, bagaimana perkiraan rupiah ke depan?

Rupiah sebenarnya berpotensi menguat ke depan. Global Markets Economist Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto memperkirakan pada kuartal IV-2022, dolar AS berada di sekitar level Rp 14.900.

Myrdal menyatakan penguatan rupiah akan didukung oleh semakin kuatnya fundamental perekonomian nasional. Antara lain pemulihan ekonomi yang semakin berlanjut, terkendalinya inflasi dan surplus pada neraca perdagangan.

Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Irman Faiz juga memperkirakan rupiah menguat signifikan pada level 14.800-15.000 per dolar AS menuju akhir tahun.

"Kami perkirakan ada potensi penguatan mengarah ke akhir tahun d level skitar 14.800-15.000/USD," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Selain fundamental yang semakin membaik, menurut Irman penguatan rupiah akan terjadi apabila Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan ke level 5,25% akhir tahun ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pergerakan Rupiah Sepekan yang Jadi Paling Seksi se-Asia


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading