CNBC Indonesia Research

Masa Depan RI Jadi Taruhan, Ekonomi China Menuju 'New Normal'

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 October 2022 07:50
Presiden Xi Jinping dan pencapaiannya di Tiongkok di bawah kepemimpinannya di Balai Pameran Beijing di ibu kota tempat Kongres Partai ke-20 akan diadakan di Beijing, Rabu, 12 Oktober 2022. (AP/Andy Wong) Foto: Presiden Xi Jinping dan pencapaiannya di Tiongkok di bawah kepemimpinannya di Balai Pameran Beijing di ibu kota tempat Kongres Partai ke-20 akan diadakan di Beijing, Rabu, 12 Oktober 2022. (AP/Andy Wong)

Jakarta, CNBC Indonesia - China menunda rilis data ekonominya dalam beberapa hari terakhir, termasuk produk domestik bruto (PDB) kuartal III-2022.

Penundaan tersebut bukan hal yang biasa, apalagi Biro Statistik Nasional China (NBS) dan tidak disebutkan sampai kapan serta alasannya.

Yang pasti, penundaan tersebut terjadi saat Kongres Partai Komunis China berlangsung.

Hal ini memicu spekulasi jika ekonomi China sedang tidak baik-baik saja.

"Ini (penundaan rilis PDB) akan menyebabkan ketidakpastian dan kehati-hatian investor, sebab tidak ada penjelasan terkait penundaan tersebut," kata Ken Cheung, kepala analis valuta asing di Mizuho Bank, sebagaimana dilansir Japan Times, Selasa (18/10/2022).

Nilai tukar yuan China pun merosot dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Rabu (19/10/2022) yuan melemah 0,4% ke CNY 7,228/US$ berada di dekat level terlemah dalam 14 tahun terakhir.

Indeks Shanghai Composite juga anjlok lebih dari 1% kemarin.

Perekonomian China diperkirakan akan mencatat kinerja terburuk dalam hampir 5 dekade terakhir. Penyebabnya, datang dari dalam dan luar negeri.

Survei terbaru dari Reuters yang melibatkan 40 ekonom menunjukkan perekonomian China diperkirakan tumbuh 3,2% di 2022, jauh di bawah target pemerintah 5,5%.

Jika tidak memperhitungkan tahun 2020, ketika dunia dilanda pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19), maka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tersebut menjadi yang terendah sejak 1976. Pada 2020 lalu, PDB China tumbuh 2,2% saja, tetapi hal yang sama juga melanda dunia.

Pelambatan ekonomi China menjadi kabar buruk bagi Indonesia, sebab merupakan pasar ekspor terbesar.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor ke China pada September sebesar US$ 6,156 miliar, turun dari bulan sebelumnya US$ 6,162 miliar, atau turun 0,1% saja.

Meski demikian, jika terus berlanjut tentunya akan berdampak buruk mengingat China adalah pasar ekspor terbesar Indonesia. Pada periode Januari - September nilainya mencapai US$ 45,238 miliar, atau nyaris 22% dari total ekspor Indonesia.

Perekonomian Indonesia juga menjadi terancam mengalami pelambatan. Sebab jika dilihat sejak tahun 2000, pergerakan PDB Indonesia cenderung mirip China.

Maklum saja, China bukan hanya pasar ekspor terbesar Indonesia, tetapi juga sebaliknya. Impor dari negara pimpinan Presiden Xi Jinping ini tercatat nyaris 34% dari total impor Indonesia, paling besar dibandingkan negara lainnya.

China menjadi mitra strategis Indonesia.

Ekonom Senior Chatib Basri juga mengatakan Indonesia lebih perlu khawatir dengan China ketimbang Amerika Serikat.

"Saya itu sebetulnya, lebih khawatir dengan (dampak) ekonomi China, dibandingkan dengan ekonomi AS terhadap kita karena kalau China kena itu ekspor kita (Indonesia) kena beneran," kata Chatib dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, dikutip Senin (10/10/2022).

Bisa dibayangkan, lanjutnya, ekspor yang dibanggakan Indonesia seperti, nikel dan besi baja akan turun.

"Kalau China slowdown, dia enggak perlu besi baja. Buat apa besi baja kan?"

Saat ini, Chatib menyampaikan bahwa ekonomi China tengah menuju 'new normal'. Menurutnya, China tidak bisa tumbuh double digit ke depannya.

Jika ini terjadi, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya tentunya menghadapi tantangan berat.

"Mungkin long term growth-nya di sekitar 4%, jauh, (tapi) itu yang harus diantisipasi. Saya gak bicara tahun ini, tapi long term growth-nya bisa ke arah sana," ungkapnya.

Oleh karena itu, dia menilai Indonesia harus bisa melakukan diversifikasi perdagangan. Selain itu, Indonesia bisa mengandalkan investasi ke depannya. Chatib berharap Indonesia bisa menjadi basis production network.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Simak! Daftar 'Harta Karun' Indonesia yang Dijual ke China


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading