Harganya Jeblok, Masa Depan Batu Bara Kini Tanda Tanya

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
05 October 2022 07:30
Batu Bara Black Diamond (Dok: Black Diamond Resources) Foto: Batu Bara Black Diamond (Dok: Black Diamond Resources)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali loyo. Pada perdagangan Selasa (4/10/2022), harga batu kontrak November di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 410 per ton. Harganya melemah tipis 0,61% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.

Pelemahan harga batu bara menjadi pembalikan arah setelah harganya terbang 1,2% pada Senin pekan ini. Turunnya harga batu bara pada perdagangan kemarin juga memperpanjang tren masih labilnya harga pasir hitam dalam dua pekan terakhir.

Dalam sepekan, harga batu bara masih anjlok 3,1% secara point to point. Harga batu bara sudah ambles 11,6% dalam sebulan sementara dalam setahun masih melesat 64,7%.



Pelemahan harga batu bara disebabkan semakin landainya harga gas serta musim dingin yang diperkirakan tidak seburuk perkiraan awal. Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) kemarin anjlok 4,7% ke 161,9 euro per megawatt-jam (MWH). Harga tersebut adalah yang terendah dalam 10 pekan.

Harga gas melemah karena meningkatnya pasokan gas di kawasan Eropa. Storage gas di Jerman kini terisi 92,1% dari kapasitas sementara di negara lain rata-rata mencapai 88,3%.

Dilansir dari Reuters, ekspor gas alam cair (LNG) Amerika Serikat (AS) ke Eropa juga meningkat pesat. Sebanyak 87 kargo dengan muatan 6,3 juta ton telah diberangkatkan dari pelabuhan AS pada September. Dari jumlah sebanyak itu, 70% atau sekitar 4,37 juta ton menuju ke Eropa. Jumlah tersebut melonjak 56% dibandingkan Juli dan 63% dibandingkan Agustus.

Dengan pasokan gas yang lebih memadai, kekhawatiran akan keringnya supply pun melandai sehingga harganya turun. Melandainya harga gas berdampak langsung ke batu bara yang merupakan sumber energi alternatifnya.

Harga batu bara juga menyusut karena cuaca musim dingin diprakirakan akan lebih bersahabat. Dengan demikian, penggunaan energi tidak akan setinggi proyeksi awal.

Dilansir dari Evening Standard, suhu musim dingin di Inggris kemungkinan akan berkisar 5,2-5,7 ° Celcius sepanjang November 2022-Februari 2023.
Suhu tersebut lebih hangat dibandingkan rata-rata pada tahun sebelumnya. Biasanya suhu di Inggris pada Desember menyentuh 1,4 °C.

Lebih hangatnya suhu juga akan berdampak besar terhadap ongkos subsidi energi pemerintah Inggris.

Seperti diketahui, Inggris berencana mengguyur subsidi energi sebesar hingga 100 miliar pound atau setara Rp 1.700 triliun untuk memitigasi lonjakan harga energi. Salah satunya adalah dengan membatasi tagihan energi rumah tangga tahunan di angka 2.500 pound atau Rp 42,7 juta per tahun.

Pakar dari University of Reading Christopher O'Reilly memperkirakan setiap penurunan 1° dari suhu rata-rata maka akan ada tambahan ongkos energi sebesar 1 miliar pound. Ongkos energi akan berkurang 500 juta pound jika suhu 0,5° lebih rendah dibandingkan suhu rata-rata biasanya.

"Jumlah ini tentu saja sangat besar," tutur O'Reilly, seperti dikutip dari Evening Standard.

Selain harga gas dan perkiraan melandainya permintaan energi, penurunan harga batu bara kemarin juga disebabkan oleh keputusan RWE untuk tidak membakar batu bara lagi pada 2030.

Produsen energi terbesar Jerman tersebut akan menghentikan produksi listrik dari batu bara sebagai bagian dari pengurangan emisi gas rumah kaca.

Keputusan RWE tentu saja akan mengurangi permintaan batu bara dalam delapan tahun ke depan. Namun, permintaan diproyeksi masih tinggi dalam jangka pendek sebagai antisipasi musim dingin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Batu Bara Mahal Jelang Musim DIngin, Pengusaha Keruk Cuan


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading