Jangan Kaget! Rupiah Diramal Tembus Segini ke Depan

Market - Romy Binekasri, CNBC Indonesia
04 October 2022 21:47
Ilustrasi Uang Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tahun ini akan bergerak dikisaran 14.688-14.675. Sementara pada tahun 2023 mendatang diperkirakan akan berada di level 14.858-14.886.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan, saat ini pelemahan nilai tukar mata uang negara berkembang lebih baik dibandingkan negara-negara maju. Sebab, perekonomian AS jauh lebih baik dibandingkan negara-negara Eropa. 

Sehingga mata uang poundsterling dan euro melemah terhadap dolar AS. Lagipula,  Indonesia masih diberkahi karena merupakan negara penghasil komoditas utama yang dibutuhkan Eropa.

"Yang menarik pelemahan nilai tukar mata uang negara maju melemah lebih dalam dari negara berkembang. Sekarang negara maju seperti negara berkembang dan negara berkembang seperi negara maju," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (4/10/2022).

"Batu bara 2022 di atas 400 dolar per ton. Bagaimana harga batuk bara ini jauh di pasar dari 40 dolar ke 400. Pemulihan ekobomi Indonesia juga datang dari ekspor," tambahnya.

Sementara, Head of Macroeconomic & Financial Market Research Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengatakan, sebelum adanya konflik antara Rusia dan Ukraina, perseroan optimis inflasi Indonesia tahun ini akan berada di kisaran 3%. Yaitu di level 3,5% - 3,7% secara tahunan (year on year/Yoy).

Namun, saat ini angka inflasi akan berada di level 6,27%. Apalagi dengan memperhitungkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Di 2023 mendatang, dengan berbagai respons kebijakan yang diambil oleh pemerintah maupun Bank Indonesia, inflasi diperkirakan akan berada dilevel 4%. Sebab, dampak dari kenaikan harga BBM tersebut hanya sementara.

"Perkiraan ini sudah memperhitungkan dampak langsung dan tidak langsung dari kenaikan harga BBM," tuturnya.

Menurutnya inflasi Indonesia per September 2022 sudah berada di level 5,95% (yoy) karena kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Meskipun demikian, hal itu patut diapresiasi karena angka 5,95% (yoy) merupakan di bawah konsensus.

Dian menegaskan, level inflasi Indonesia masih relatif lebih rendah. Apalagi dibandingkan dengan negara-negara lain.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Bank Mandiri tetap mempertahankan perkiraannya di level 5,17% yoy, baik sebelum ada invasi Rusia maupun setelahnya. Optimisme pertumbuhan ekonomi tersebut karena pada pertumbuhan ekonomi semester I-2022 yang berhasil mencapai 5,23% yoy.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Nyaris Rp 15.000/US$, Begini Suasana Money Changer


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading