Efek Eropa dan China Ngeri, Harga Batu Bara Anjlok 2,5%

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
30 September 2022 06:50
Pengapalan batu bara. (Dok: PLN) Foto: Pengapalan batu bara. (Dok: PLN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terus melandai. Pada perdagangan Rabu (29/9/2022), harga batu kontrak Oktober di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 409,25 per ton. Harganya anjlok 2,5% dibandingkan hari sebelumnya.

Melemahnya harga batu bara pada perdagangan kemarin memperpanjang tren negatif yang berlangsung pada Rabu pekan ini.

Dalam sepekan, harga batu bara sudah menyusut 2,7% secara point to point. Dalam sebulan, harga batu bara sudah melandai 1,5% sementara dalam setahun melesat 95%.

Melandainya harga batu bara disebabkan oleh anjloknya harga gas Eropa serta masih lesunya perekonomian China.



Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) kemarin anjlok 9,42% ke 187,67 euro per megawatt-jam (MWH). Harga tersebut adalah terendah dalam dua bulan terakhir.

Melandainya harga gas disebabkan oleh meredanya kekhawatiran pasokan. Storage gas di Eropa dilaporkan sudah terisi 88,2%% dari kapasitas. Storage di Jerman bahkan sudah terisi sebanyak 91,5% dari kapasitas.

Titik-titik kebocoran pada jaringan Nord Stream 1 dan 2 di Laut Baltik juga sudah ditemukan. Kebocoran sempat membuat pasar panik sehingga harga gas melonjak.

Dilansir dari Reuters, perusahaan Rusia Gazprom juga berkanji akan mengirim pasokan gas sebanyak 42,5 juta kubik meter ke Eropa melalui Ukraina pada Kamis. Pengiriman lebih besar dibandingkan 41,6 juta kubik meter yang dikirim pada Rabu.

Sementara itu, Kanselir Jerman Olaf Scholz berencana mengeluarkan stimulus sebesar 200 miliar euro atau sekitar Rp 2.936 triliun untuk melindungi perusahaan dan warga Jerman dari lonjakan harga energi.

Stimulus yang akan berlaku hingga 2024 tersebut di antaranya menurunkan harga gas dan menurunkan pajak penjualan gas dari 19% menjadi 7%.
"Harga gas harus turun. Karena itulah pemerintah akan melakukan segala upaya untuk menurunkan harga gas," tutur Scholz, seperti dikutip dari Reuters.

Dengan harga gas yang melandai dan diharapkan terus melemah ke depan maka harga batu bara ikut turun. Melandainya harga gas langsung menyeret ke bawah harga batu bara yang merupakan sumber energi alternatif.

Pelemahan harga batu bara juga disebabkan oleh masih lesunya perekonomian China yang merupakan konsumen terbesar batu bara.
Pergerakan ekonomi China justru lesu
menjelang liburan liburan Golden Week. Liburan yang berlangsung pada 1-7 Oktober biasanya menjadi periode di mana ekonomi akan melesat karena permintaan naik.

Namun, data lalu lintas kargo menuju dan dari China justru anjlok menjelang Golden Week. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, sepekan menjelang Golden Week adalah masa-masa sibuk lalu lintas kargo demi mengejar permintaan serta mengejar sebelum penutupan pabrik pada masa liburan.

Dilansir dari Heellenic Shipping News.com, rata-rata pengiriman ke pesisir Pasifik turun 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sementara ke Pesisir Atlantis turun hingga 14%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BUMI Cs Sumringah, Harga Batu Bara Kian Menghangat, Lompat 3%


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading