Kabar Buruk! Rupiah Batal Menguat

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 September 2022 15:23
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah gagal mempertahan penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (29/9/2022). Hal ini menunjukkan dolar AS yang masih terlalu kuat, dan risiko pelemahan berlanjutnya pelemahan rupiah pun masih besar.

Melansir data Refintiv, begitu perdagangan dibuka rupiah langsung menguat 0,39% ke Rp 15.200/US$. Setelahnya penguatan terus terpangkas, hingga berbalik melemah 0,1% ke Rp 15.275/US$.

Di penutupan perdagangan, rupiah berakhir di Rp 15.260/US$ sama persis dengan posisi akhir Rabu kemarin.

Penguatan dolar AS diperkirakan masih akan belum berakhir, atau belum mencapai puncaknya. Sehingga risiko pelemahan rupiah masih cukup besar.

"Dolar AS yang menyandang status safe haven akan terus menarik minat pelaku pasar, akibat ketakutan resesi global yang semakin besar dalam beberapa bulan ke depan. Dalam pandangan kami, indeks dolar AS akan mencapai puncaknya di 115 pada semester pertama 2023," kata ekonom ANZ Bank, sebagaimana dilansir FX Street, Rabu (28/9/2022).

Indeks dolar AS saat ini berada di kisaran 113,43 setelah sempat menyentuh 114 di pekan ini.

Dolar AS yang menyandang status safe haven memang menjadi primadona saat isu resesi dunia semakin menguat. Apalagi dengan The Fed yang berencana terus menaikkan suku bunga hingga tahun depan.

Istilah cash is the king, kembali mengemuka di dalam negeri. Kali ini justru datang dari otoritas moneter, Bank Indonesia (BI).

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah cash is the king muncul beberapa kali. Yang terdekat, saat awal pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19).

Kali ini, istilah cash is the king dilontarkan langsung oleh Deputi Gubernur BI Aida S Budiman.

"Kita kenal istilah higher for longer (untuk suku bunga di berbagai negara) yang menimbulkan ketidakpastian global dan pasar keuangan, diikuti Eropa. Sehingga mata uang dolar AS mengalami peningkatan tertinggi dalam sejarahnya dan mengalami tekanan cash is the king," jelas Aida dalam Diskusi Publik Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu (28/9/2022).

Istilah tersebut merujuk pada fenomena di mana para pelaku pasar lebih memilih memegang cash. Tetapi bukan sembarangan cash, hanya dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading