Gelap! Risiko Investasi Pendek-Panjang Indonesia Naik Semua

Market - Muhammad Maruf, CNBC Indonesia
29 September 2022 15:20
Grafik pergerakan CDS Indonesia tenor 2,5 dan 10 tahun. Data menunjukkan kenaikan sejak awal tahun Foto: Muhammad Ma'ruf

Jakarta, CNBC Indonesia - Tingkat premi risiko investasi atau yang lazim disebut credit default swap (CDS) untuk lindung nilai investasi di Indonesia naik signifikan, dan tak tanggung tanggung semua tenor memecahkan rekor tertingginya. Level CDS tenor dua, lima dan sepuluh tahun melejit di angka tertinggi lebih dari 28 bulan.

Data Refinitiv kemarin menunjukkan, hanya dalam dua pekan CDS tenor dua tahun Indonesia berada di angka 83.370, meroket 115%. Adapun CDS tenor lima tahun berada pada level 162, naik 55% dan CDS tenor 10 tahun melompat 39% menuju 223.697. Semakin pendek berinvestasi di Indonesia, maka semakin tinggi pula premi risiko atau biaya lindung nilai atas potential loss.

CDS adalah produk derivatif berupa kontrak keuangan yang memungkinkan investor untuk menghilangkan atau mengurangi risiko bisnis nya kepada pihak lain, dengan membayar premi sesuai pada angka yang disepakati. Dalam hal ini, angka-angka level CDS itulah yang merupakan fair value di pasar internasional untuk Indonesia.


Melonjaknya risiko investasi di Indonesia yang termasuk emerging market ini tidak lepas dari kekhawatiran akan resesi global, kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, fenomena strong dolar AS, capital outflow di pasar obligasi dan ketidakjelasan prospek ekonomi dunia. Kondisi ini tidak hanya menimpa Indonesia saja, melainkan juga semua negara negara berkembang dan bahkan maju sekalipun.

Melempem nya semua mata uang dunia termasuk rupiah terhadap dollar AS adalah fenomena global. Kurs negara lan terutama emerging market juga tertekan. Capital outflow di pasar bond Indonesia menunjukkan betapa besarnya arus modal keluar.

Kepemilikan investor asing kini tinggal sekitar 14% dari total keseluruhan, jauh di bawah persentase 'normal' di angka sekitar 38% pada 2019. Menkeu Sri Mulyani beberapa hari lalu memprediksi, trend capital outflow masih akan berlanjut.

Data Bank Indonesia berdasarkan data setelmen 1 Januari- 22 September 2022 menunjukkan investor asing mencatat jual neto sebesar Rp 148,11 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duit Ratusan Triliun Rupiah Lenyap dari AS-China, Lari ke RI?


(mum/mum)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading