Ini Bukti Perusahaan BUMN Makin Baik, Pendapatan Naik 18,8%

Market - Romys Binekasri, CNBC Indonesia
28 September 2022 13:36
Konfrensi Pers Kinerja Portfolio BUMN Tahun 2021 (CNBC Indonesia/Romys Binekasri) Foto: Konfrensi Pers Kinerja Portfolio BUMN Tahun 2021 (CNBC Indonesia/Romys Binekasri)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, transformasi laporan keuangan yang terkonsolidasi selain bagian dari transparansi dan keterbukaan tata kelola usaha (Good Corporate Governance) tetap juga bisa mengetahui strategi dan arah bisnis ke depan.

Menurutnya, melalui buku laporan keuangan yang terkonsolidasi secara tahunan atau annual report konsolidasi BUMN dapat mengidentifikasi performa di masing-masing perusahaan pelat merah.

"Dengan buku ini bisa mengidentifikasi kinerja masing-masing BUMN. Ketika bisa melihat masing-masing performanya kita juga memprediksi dan strategi besar BUMN ke depannya," kata Erick dalam konferensi pers di gedung BUMN Jakarta, Rabu (28/9/2022).

Erick memaparkan, para perusahaan BUMN dapat memiliki kinerja keuangan yang berkelanjutan dengan melakukan berbagai perbaikan secara menyeluruh di berbagai sektor, dengan melihat situasi global setelah pandemi Covid-19 dan geopolitik perang antara Rusia dan Ukraina.

Dari laporan laba rugi konsolidasi portofolio BUMN, dapat dilihat kinerja perekonomian secara keseluruhan. Pendapatan konsolidasi tahun 2021 meningkat menjadi Rp 2.292,5 triliun, atau tumbuh 18,8% dibandingkan tahun 2020.

"Hal ini didorong oleh pertumbuhan harga komoditas global, peningkatan penjualan akibat peningkatan aktivitas penanggulangan Covid-19 dan pertumbuhan volume penjualan akibat pemulihan sebagian kegiatan ekonomi di beberapa klaster," tuturnya.

Sementara margin EBITDA sebagai indikasi efisiensi operasional mengalami peningkatan menjadi 20,4% di tahun 2021 terutama disebabkan perbaikan efisiensi pada beban operasional tidak langsung.

Adapun restrukturisasi utang dan penurunan tingkat bunga pinjaman pada tahun 2021 mengakibatkan penurunan beban bunga konsolidasi dari semula Rp 91,5 triliun di tahun 2020 menjadi Rp 73,5 triliun di tahun 2021.

Pertumbuhan penjualan, perbaikan margin operasi, penurunan beban bunga akibat restrukturisasi dan penurunan kerugian kurs, pada akhirnya memberikan kontribusi positif yang mengakibatkan laba bersih tahun 2021 meningkat menjadi Rp 124,7 triliun atau naik 838,2% dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp 13,3 triliun.

"Artinya angka ini sangat signifikan kalau dibandingkan dengan APBN negara yang sebesar Rp 2.500 triliun. EBITDA naik jadi 20,4% artinya makin sehat dan jelas sehat. Kalau ada persepsi BUMN utang, kita presentasikan total utang dibanding investasi Rp 1.500 triliun utang dan modal Rp 4.200 triliun, artinya perbandingan 35% utang dengan equity artinya sehat," pungkasnya. 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Erick Usul Anggaran Kementerian BUMN Rp 232 M, Buat Apa Saja?


(vap/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading